Minggu, 28 Agustus 2016

Vicious


Tahun rilis: 2013
Sutradara: Ed Bye
Jumlah musim: 2
Bintang: Ian McKellen, Derek Jacobi, Iwan Rheon, Fransesca de la Tour, Marcia Warren
My rate: 3.5/5

Oke, jika saya bilang Gandalf dan Ramsay Snow si penyiksa sadis di Game of Thrones ngumpul bareng, maksud saya adalah Sir Ian McKellen dan Iwan Rheon beradu akting dalam komedi situasi Inggris, Vicious, yang disiarkan ITV pada tahun 2013 dan dengan cepat menjadi serial komedi situasi favorit saya. Vicious berhasil memikat saya dengan dialog-dialognya yang khas British humor: lucu namun tajam menohok dengan humor cerdas nan sarkastik, yang makin mantap disampaikan dengan logat Inggris yang legit itu. 


Dalam sitkom ciptaan Gary Janetti dan Mark Ravenhill ini, Ian McKellen berperan sebagai Freddie, seorang aktor tua yang, walaupun masa-masa kejayaannya sudah lewat, masih bersikap seolah ia populer. Ia memiliki kekasih sesama jenis, Stuart (Derek Jacobi), yang tinggal bersamanya di Covent Garden dan sering perang mulut dengannya (tapi entah kenapa hubungan mereka bisa bertahan selama 48 tahun). Iwan Rheon berperan sebagai Ash, tetangga Freddie dan Stuart yang menganggap keduanya sebagai teman sekaligus tempat curhat, walaupun ia berkali-kali juga mengingatkan Freddie dan Stuart bahwa dirinya heteroseksual, lantaran Freddie dan Stuart suka menggodanya. 

Selain mereka bertiga, ada Violet (Frances de la Tour), seorang wanita paruh baya yang sepertinya sudah punya sejarah pacaran ratusan kali (yang selalu gagal) tapi masih suka bergenit-genit dengan Ash. Ada juga Penelope (Marcia Warren), teman lama Freddie dan Stuart yang seringkali nggak nyambung dalam percakapan, dan Mason (Philip Voss), yang bermulut tajam dan bisa hampir sama judesnya dengan Freddie dan Stuart ketika mereka sedang perang mulut.

Vicious berkisah tentang kehidupan sehari-hari Freddie dan Stuart, serta interaksi mereka dengan Ash, Violet, Mason dan Penelope. Sumber kelucuan utama dari serial ini adalah dialog sarkastik antar Freddie dan Stuart yang punya love/hate relationship walaupun pada dasarnya tetap saling mencintai, yang kemudian ditimpali oleh Mason yang judes, Penelope yang tulalit, dan Ash yang baik hati dan polos serta sering gugup ketika dirayu Violet yang genit setiap kali mereka bertemu. Ada juga 2 karakter yang tak pernah muncul sampai episode terakhir dan hanya ditunjukkan lewat reaksi para pemeran utama: ibu Stuart (yang belum tahu bahwa anaknya gay walaupun sudah sering diberi isyarat halus) dan Balthazar, anjing Freddie dan Stuart yang sangat tua sehingga setiap hari mereka harus mengecek apakah ia masih hidup atau tidak, mulai dari membunyikan terompet hingga menciprati si anjing dengan air.

Melengkapi suasana sitkom yang mengingatkan kita pada sitkom keluarga tahun 70-an dan 80-an, Freddie dan Stuart juga dikisahkan sebagai pasangan gay yang agak ketinggalan jaman dari segi pergaulan dan penampilan, kerap bengong melihat gaya berpakaian dan pacaran anak-anak muda, dan dalam satu episode bahkan harus susah payah mencoba bergaya muda (dan berakhir dengan kurang sukses), ketika keduanya diajak Ash ke kelab malam yang sangat modern. Bahkan, ketika hendak menghadiri acara screening salah satu serial yang dibintanginya, Freddie berkeras tidak butuh jas baru, padahal jas itu sudah begitu tuanya sehingga ketika ia merogoh kantongnya, ternyata di dalamnya masih ada robekan tiket bioskop dari pemutaran film Lawrence of Arabia (1962).

Banyak yang bilang kalau penggambaran karakter Freddie dan Stuart sebagai pasangan gay di sini agak berlebihan, dalam artian karakter mereka dibuat seolah hanya menuruti stereotip kasar kaum gay. Akan tetapi, buat saya, penggambaran karakter yang agak berlebihan justru menjadi kekuatan serial ini, memberi jalan untuk lontaran dialog-dialog tajam dan kocak serta mengimbangi penokohan Violet, Mason, dan Ash yang bisalah dibilang sebagai tokoh yang agak 'waras' di sini (ya, kalau tidak ada dia, mungkin keseluruhan komedi ini jadi terlihat berlebihan). Lagipula, senang rasanya melihat ungkapan sayang antar Freddie dan Stuart, yang walaupun singkat dan tersamar oleh perang mulut harian mereka, namun terlihat tulus dan menyentuh. Apalagi, setiap episode selalu dibuka dengan adegan yang sama: Freddie turun dari tangga, dibuatkan secangkir teh oleh Stuart, dan Stuart kemudian mencemplungkan gula batu ke dalam teh Freddie. Adegan pembuka yang simpel namun menyentuh, walaupun mereka melakukannya sambil bertukar ejekan seperti biasa.

Jika Anda menyukai sitkom model komedi Inggris dengan dialog penuh humor sarkastik, plus suasana sitkom yang persis serial komedi jaman tahun 70-an dan 80-an (siapa tahu kepingin nostalgia), dan tentunya ingin melihat kelucuan Gandalf melontarkan omelan-omelan judes nan kocak, Vicious boleh dijadikan pilihan tontonan serial komedi.