Minggu, 28 Agustus 2016

3-Iron


Tahun rilis: 2004
Sutradara: Kim Ki-Duk
Bintang: Jae Hee, Lee Seung-Yeon
My rate: 3.5/5

Jujur, saya bukan orang yang terlalu suka menonton film yang sejak awal sudah ditawarkan sebagai "film romansa." Akan tetapi, ini filmnya Kim Ki-Duk, sutradara Korea yang nyentrik dengan film-film out of the box yang bisa sangat memikat walaupun minim dialog. 3-Iron (Bin-Jip) adalah salah satu filmnya yang mendapat rating cukup tinggi (8/10 di IMDB dan 87% di Rotten Tomatoes), dengan karakterisasi yang unik namun entah bagaimana masih believable. Jika film-film Quentin Tarantino memikat dengan dialog-dialognya yang super asyik, tajam, dan selalu asyik untuk dikutip, Kim Ki-Duk adalah spektrum yang berlawanan: memikat justru dengan fokus ke karakter dan jalan cerita yang tidak selalu membutuhkan dialog. 


Film ini dibuka dengan kemunculan Tae-Suk (Jae Hee-Song), pemuda bermotor yang tidak punya rumah tetap. Kerjanya setiap hari adalah menempelkan brosur-brosur restoran di pintu-pintu rumah, dan beberapa jam kemudian kembali untuk melihat pintu mana yang masih ditempeli brosur (yang berarti tidak ada orang di rumah), untuk kemudian masuk dengan mengakali kunci dan menempati rumah itu selama pemiliknya tak ada; ia tidur, memasak, memakai baju-baju si pemilik rumah, menonton TV, dan tidak lupa selfie untuk kenang-kenangan. Sebagai gantinya, ia juga melakukan tugas-tugas rumah sebagai balas budi untuk si pemilik rumah: mencuci, menyiram bunga di pot, dan memperbaiki barang-barang rusak.

Suatu kali, ia menyusup ke sebuah rumah mewah yang dipenuhi potret seorang model cantik, Sun-Hwa (Lee Seung-Yeon). Selama berada di rumah itu, ia tidak sadar kalau ia diperhatikan oleh Sun-hwa, yang tidak berkata apa-apa karena tertarik melihat tingkah Tae-Suk. Ketika Tae-Suk melihat Sun-hwa, ia melihat bahwa wajah sang model cantik babak belur karena dipukuli suaminya. Sun-hwa digambarkan sangat diam dan muram karena siksaan sang suami, namun toh mereka perlahan saling tertarik. Suatu ketika, melihat sang suami memukuli istrinya, Tae-Suk menghajarnya sebelum mengajak Sun-Hwa ikut bersamanya.

Sun-Hwa dan Tae-Suk pun berpindah-pindah tempat dari rumah ke rumah, dan suatu ketika sempat diusir karena ketahuan ketika menyusup ke dalam rumah seorang petinju. Mereka juga menyusup ke rumah pasangan yang menjaga sebuah kuil, serta rumah seorang fotografer yang pernah memotret Sun-Hwa dan memajang salah satu fotonya besar-besar di dinding. Suatu ketika, saat menyusup ke rumah pasangan suami istri yang berlibur, mereka menemukan bahwa ayah sang suami meninggal, dan mereka pun menguburkannya dengan khidmat walau seadanya. Akan tetapi, keputusan ini membuat mereka berakhir di tangan polisi. Tae-Suk diinterogasi dan dipenjara, sementara Sun-hwa dibawa pulang oleh suaminya. Akan tetapi, film ini kemudian berakhir dengan cara yang tak terduga ketika Tae-Suk dan Sun-Hwa bertemu kembali di rumah Sun-Hwa.

Film ini nyaris tanpa dialog antara tokoh utamanya; dialog hanya diucapkan oleh para pemeran pendukung, dan itupun relatif tak terlalu banyak. Akan tetapi, Kim Ki-Duk membuat karakterisasi kedua tokoh utama begitu menarik dan chemistry yang begitu memikat hingga saya pun tak keberatan untuk tidak pernah menekan tombol skip saat menonton. Belum apa-apa, saya sudah dibuat tertarik dengan gaya hidup Tae-Suk ini, apalagi tidak ada motif yang menjelaskan kenapa ia melakukan ini, yang membuat karakternya makin misterius. Interaksi diam antara dirinya dan Sun-Hwa juga memikat; tidak dengan kata-kata, tapi dengan detail-detail kecil dalam interaksi mereka, yang justru langsung menohok ketimbang skenario dengan dialog penuh gula ala film adaptasi dari novel-novel romantis yang dalam setahun bisa terbit puluhan judul dari penulis yang sama.

Saya bukan kritikus film, jadi saya tidak punya kata-kata canggih untuk menjelaskan film ini, apalagi film-film Kim Ki-Duk yang kerap dilabeli art house cinema. Sebagai penonton awam, saya ingin bilang bahwa menonton film ini membuat saya memikirkan bermacam-macam hal.

Misalnya, melihat Tae-Suk menyusup ke dalam rumah-rumah namun tanpa maksud jahat, makan dari lemari es dan meminjam baju pemilik rumah, namun membalas budi dengan melakukan beragam pekerjaan rumah tangga serta memperbaiki barang rusak, entah kenapa membuat saya teringat dengan mitos-mitos atau kepercayaan kuno tentang roh-roh baik yang masuk ke dalam rumah dan membersihkan serta mengurus rumah itu saat pemiliknya tak ada. Walaupun karakternya sebenarnya cukup believable, dalam artian rasanya tak akan aneh kalau karakter seperti ini memang ada di dunia nyata walau dengan segala kenyentrikannya, ada kesan seolah Tae-Suk ini bisa saja jelmaan roh gaib seperti itu dalam dunia nyata dan saya pun tak akan terlalu kaget.

Melihat Tae-Suk dan Sun-Hwa dalam perjalanan berdua sebagai pasangan, kesannya menarik sekali: bukan dalam artian romantis berlebihan (memang ada adegan ciuman dan pelukan, tapi baru beberapa lama kemudian sampai kita bisa melihatnya), tapi saya senang melihat mereka yang justru kesannya lebih seperti pasangan suami istri yang sedang jalan-jalan berdua naik motor; hening, tapi saling membantu dan memerhatikan dalam perjalanan, dengan kesan keintiman yang sangat kuat yang justru dipancarkan dari gerak-gerik sederhana tanpa kata-kata, yang hanya bisa ditunjukkan oleh pasangan yang sudah saling memahami.

Ketika pertama menonton film ini, adegan-adegan awal masih nampak realistis, tapi entah kenapa, semakin ke belakang justru ada kesan sedikit surreal (ciri khas Kim Ki-Duk), dan bahkan ada beberapa adegan yang punya kesan komedik samar. Adegan ketika Tae-Suk berada di dalam ruang isolasi di penjara juga menarik (tak akan saya bocorkan apa!). Bagian akhir film ini pun seperti itu, dan saya tidak memaksudkannya sebagai sesuatu yang buruk. This movie is touching, subtle, with a bit of whimsy in its main characters' interactions, and seriously, do not skip or fast-forward when you watch this.

Saya juga suka kontras yang menyenangkan antara film Korea yang indah dilihat ini dengan sebuah lagu berbahasa Arab yang terus-menerus diputar dalam adegan saat pasangan ini berduaan; saya tidak tahu apa lagunya, tapi memasangkan Korean art movie dengan lagu Arab juga memberi kesan asing yang nikmat sekali buat mata dan telinga saya.

Singkat kata, film Korea ini memberi pengalaman menonton yang sangat unik, yang mungkin berbeda dari berbagai film dan serial Korea modern yang populer. Ini film romansa yang memberi kesan mendalam untuk saya, bahkan tanpa dialog dari kedua karakter utamanya. Dan pastinya, Kim Ki-Duk berhasil membuktikan bahwa tidak perlu dialog jika karakterisasi, interaksi dan cerita yang disuguhkan sudah sangat memikat.