Senin, 10 Oktober 2016

Blue is the Warmest Color


Tahun rilis: 2013
Sutradara: Abdellatif Kechiche
Bintang: Adèle Exarchopoulos, Léa Seydoux, Salim Kechiouche, Jérémie Laheurte, Mona Walravens
My rate: 5/5

Pendapat saya secara singkat tentang Blue is the Warmest Color: ini adalah film berdurasi nyaris 3 jam yang dengan senang hati saya tonton berulang-ulang tanpa skip atau fast forward. Sekilas kelihatannya seperti drama biasa bertema tumbuh dewasa dan mencari cinta, dengan karakter utama lesbian. Akan tetapi, film yang disorot dengan sangat bersahaja ini menyimpan letupan-letupan emosi, hasrat, harapan dan sentimentalisme, yang tak diwujudkan secara hiperbolis namun terasa menggelegak di bawah permukaan. Lagipula, ini kisah tentang menjadi dewasa, dan tak ada yang bisa ditebak ketika seseorang berada di periode itu dalam hidupnya. 

Adèle (Exarchhopolous) menjalani kehidupan layaknya remaja biasa; melewati hari demi hari bersekolah, ngobrol dengan teman, menggosipkan cowok, makan bersama keluarga sambil membicarakan hal-hal seperti pekerjaan dan nilai di sekolah, dan suka membaca serta menulis di buku harian sebagai hobi. Akan tetapi, di dalam hati, dia selalu merasa hampa: dia merasa teman-temannya dangkal, hubungannya dengan cowok teman sekolahnya terasa hanya setengah hati, dan walaupun orangtuanya baik, rutinitas keseharian di keluarganya yang konservatif hanya itu-itu saja. Hidupnya kemudian berubah ketika dia berpapasan dengan seorang gadis tomboy berambut biru, Emma (Seydoux).

Ketika Adèle diajak temannya, Valentin, pergi ke bar gay, dia melihat Emma di bar lesbian yang lokasinya di seberang jalan. Memberanikan diri masuk ke tempat yang seumur hidup belum pernah dimasukinya itu, Adèle bertemu lagi dengan si gadis berambut biru. Emma, yang seorang pelukis dan mahasiswi seni yang berwawasan luas, memikat Adèle yang lebih down to earth. Mereka pun menjalin hubungan, dan Adèle diterima dengan baik oleh keluarga Emma yang berpikiran terbuka dan gemar mendiskusikan hal-hal seperti seni, musik dan filsafat. Akan tetapi, cinta dan hasrat saja nampaknya tak cukup kuat sebagai perekat, ketika berbagai perbedaan dalam hal idealisme, minat, dan lingkungan pergaulan mereka mulai ikut campur.

Blue is the Warmest Color adalah satu lagi film Kechiche yang mengulik sisi-sisi kehidupan di Prancis yang tak selalu romantis, namun tetap memikat dalam kesederhanaan dan realismenya. Setelah The Secret of the Grain yang memotret kehidupan satu keluarga imigran Tunisia yang bercita-cita membuka restoran di Prancis, dan Games of Love and Chance yang memotret interaksi para remaja kelas menengah bawah yang hidup di proyek perumahan pemerintah, film ini kelihatannya lebih ringan karena mengajak kita menonton "kisah cinta pertama." Akan tetapi, tak ada yang ringan atau sederhana dari Blue, karena Kechiche dengan tangkas mengajak kita ikut tenggelam dalam letupan-letupan emosi yang tenggelam di balik kekaleman Adèle dan obrolan intelek Emma.

Lewat rutinitas keseharian Adèle, Kechiche mengajak kita ikut tenggelam dalam gejolak kebingungan dan ketidakyakinan yang melanda benaknya, ketika berbagai hal seperti tanggung jawab masa depan, dilema memilih antara kerja dulu atau kuliah, serta hasrat mencari cinta dan kebimbangan masa akhir remaja mulai menerpa. Kamera kerap menyorot Adèle dari dekat atau mengambil sudut pandang penglihatannya, ikut bergoyang-goyang saat dia berjalan, seolah kita melihat dunia dari matanya. Sorotan jarak dekat ini juga kerap dilakukan Kechiche pada karakternya yang lain; sorotan ke bagian-bagian tubuh, ekspresi wajah saat makan, seolah kita dipaksa ikut melebur dengan mereka.

Gonjang-ganjing hubungan antara Emma dan Adèle juga tidak digambarkan secara eksplosif (kecuali satu adegan pertengkaran, tapi itu saja), melainkan dalam hal-hal yang tidak terang-terangan: nada suara dan topik obrolan, cara mereka saling menatap, saat saling mengomentari pekerjaan masing-masing, saat bertamu dan diajak makan oleh keluarga masing-masing, saat bertemu teman masing-masing. Alih-alih menggarap kisah dimana cinta sejati mengalahkan segalanya, Kechiche justru menggunakan durasi panjang untuk dengan sabar menunjukkan bagaimana perbedaan ideologi, pilihan hidup, lingkungan pergaulan dan kelas bisa sedikit demi sedikit mengikis cinta dan hasrat, dan itu diperlakukan secara alami, tanpa demonisasi.

Bicara soal makan, betapa Kechiche tahu caranya menjadikan makanan lebih dari sekadar properti! Keluarga Adèle digambarkan selalu menikmati makanan khas kelas pekerja: pasta, salad, kentang, dan daging murah, menu-menu konvensional. Sebaliknya, ketika diajak makan di rumah Emma, Adèle disuguhi hidangan laut segar dan anggur putih; sesuatu yang bisa dibilang "eksperimental" untuknya. Adèle mengaku tidak suka tiram, tapi setelah bercinta dengan Emma untuk pertama kalinya, dia juga akhirnya mencicipi tiram untuk pertama kalinya (saya tidak perlu jelaskan kaitan antara tiram dan seksualisme, 'kan?). 

Kechiche juga menyelipkan sedikit sentilan tentang perbedaan kelas di Prancis; ketika Adèle mengobrol dengan keluarganya yang kaum kelas pekerja konservatif, obrolannya berkisar soal pekerjaan di masa depan, nilai di sekolah, potensi karir yang menghasilkan, dan Emma juga diperkenalkan sebagai tutor pelajaran filsafatnya. Ketika Adèle ada di rumah Emma, mereka bisa lebih terang-terangan, dan orangtua Emma yang kelas menengah atas mengobrolkan hal-hal seperti seni, filsafat dan musik. Ketika Adèle merayakan pesta kelulusan Emma dan merasa minder karena dikelilingi teman-teman Emma yang intelek dan berkelas, dia menyajikan sepiring besar pasta saus tomat ala keluarganya, seolah memberi semacam pernyataan tak terucap. Bahkan ketika sedang tidak ada dialog bermakna, Kechiche tetap membuat alur ceritanya berarti.

Film ini berakhir dengan cara ambigu, tapi menurut saya, memang tak ada cara lain yang lebih tepat untuk mengakhirinya. Ketika Adèle berjalan menjauh menyambut hari esok yang tak pasti, saat itu juga kita diingatkan bahwa masa-masa dimana bayangan masa depan, kebimbangan masa muda dan cinta pertama melanda adalah salah satu periode paling bergejolak dalam hidup, dan tanpa akhir yang pasti bagi setiap orang.