Sabtu, 27 Agustus 2016

The Adventures of Priscilla, Queen of the Desert


Tahun rilis: 1994
Sutradara: Stephan Elliott
Bintang: Hugo Weaving, Guy Pearce, Terrence Stamp
My rate: 5/5

Setelah menulis soal peran lama Lee Pace sebagai si cantik Calpernia Addams, kali ini saya ingin mengulas Lord Elrond alias Hugo Weaving dalam salah satu peran terbaiknya: sebagai drag queen alias "ratu waria" di film The Adventures of Priscilla, Queen of the Desert. Memang sih, film ini sebenarnya main tahun 1994, yang berarti 7 tahun sebelum LOTR: The Fellowship of the Ring. Akan tetapi, karena saya menonton Priscilla setelah menonton semua film LOTR, kesannya jadi kuat sekali karena Lord Elrond yang saya kenal mendadak tampil dalam balutan gaun berkilau, korset, sepatu hak tinggi, wig, dandanan tebal, dan tak lupa dansa sambil lipsync menyanyikan lagu-lagu ABBA. 

Tetapi, jangan salah, walau merupakan film komedi, Priscilla sama sekali tidak dikemas seperti film komedi serba slapstick ala Hollywood, yang seringkali mencoba lucu secara berlebihan tapi malah garing atau bahkan membuat eneg (apalagi kalau melibatkan peran karakter transgender atau waria yang sering diolok-olok). Adegan komedik di film ini terutama berasal dari paduan yang pas antara adegan, dialog lucu yang cerdas atau sarkastik atau paduan semuanya (terutama dengan bumbu aksen Australia yang semakin menambah keseruannya), serta bahasa tubuh, mimik dan gesture para pemeran seperti Hugo Weaving, Terence Stamp, dan Guy Pearce. Film ini pun mendapat banyak apresiasi, di antaranya Academy Award untuk Best Costume Design, pemutaran eksklusif di sesi Un Certain Regard di festival Cannes 1994, dan menjadi salah satu classic cult movie bertema LGBT.

Film ini mengisahkan tiga orang penampil pertunjukan drag queen di sebuah kelab malam di Sydney: Mitzi alias Anthony Belrose (Hugo Weaving), Bernadette (Guy Pearce), dan Felicia alias Adam (Terrence Stamp). Mitzi dan Felicia adalah penampil yang terbilang sangat sukses di kelab tersebut dengan pertunjukan drag queen andalan mereka. Sementara itu, Bernadette yang paling tua di antara mereka adalah mantan penampil serta wanita transeksual yang telah menjalani operasi kelamin dan payudara (nama aslinya Ralph, dan dia paling benci kalau diledek dengan dipanggil menggunakan nama itu). Suatu hari, Mitzi menerima telepon dari seorang wanita pengelola hotel bernama Marion, yang mengundang grupnya untuk melakukan pertunjukan di hotelnya. Ketiganya menempuh perjalanan jauh dengan bus yang dimodifikasi dan dinamai Priscilla oleh Felicia dari Sydney ke hotel di Alice Spring, kota terpencil di Australia Tengah, dan film ini berfokus pada petualangan mereka di perjalanan.

Ketiga karakter ini memiliki 'masalah' mereka masing-masing. Mitzi menyimpan rahasia soal kehidupan pribadinya di masa lalu yang berkaitan dengan Marion; Bernadette baru saja ditinggal mati kekasihnya akibat suatu kecelakaan aneh di kamar mandi, padahal ia sudah menghabiskan tabungannya untuk operasi kelamin demi kekasihnya itu. Felicia, yang paling muda, santai dan nampak paling serampangan, punya keinginan yang nampak sederhana yaitu berdiri di puncak berbatu King's Canyon sambil mengenakan kostum drag queen lengkap dan sepatu hak tinggi, namun pada akhirnya ia juga berhadapan dengan suatu kejadian yang cukup mengguncangnya selama perjalanan mereka.

Selama perjalanan ini, ketiganya mengalami berbagai petualangan dan bertemu dengan beragam karakter, termasuk sekelompok orang Aborigin, pemilik bar dan penduduk kota kecil yang homofobik, wanita Asia penampil bar yang nyentrik, montir baik hati yang naksir Bernadette, hingga tentu saja Marion sendiri. Pada akhirnya, ketika mereka mengakhiri perjalanan dan tiba di Alice Springs untuk tampil, mereka harus mengalami beberapa kejadian lagi sebelum akhirnya mulai pelan-pelan membereskan semua masalah hidup mereka.

Film ini kalau saya bilang seperti gabungan antara road movie dan outcast movie (film yang mengisahkan karakter yang di kehidupan sehari-hari sering diremehkan, diabaikan, atau diejek). Dan ya, sutradara Stephan Elliott memang sengaja mengusung tema LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgeder) yang saat itu belum populer di dunia perfilman Australia. Selain mendapat berbagai penghargaan sinematik, film ini juga dipuji karena mengusung tema LGBT dalam cara yang positif. Tetapi, film ini tidak berat atau membosankan kok; malah, saya punya VCD originalnya di rumah (hasil ngubek-ngubek rak DiscTarra sampai diliatin penjaga tokonya karena bikin berantakan), dan sampai sekarang masih selalu saya putar karena tidak pernah membosankan untuk ditonton berkali-kali, padahal belinya sudah 6-7 tahun yang lalu.

Kesan pertama yang saya tangkap sepanjang menonton film ini adalah: quirky! Ya, mungkin karena kostum-kostum yang berwarna-warni, adegan-adegan yang berkesan absurd seperti adegan ikonik Felicia berdandan lengkap dan duduk di atas 'kursi' berbentuk sepatu hak tinggi yang dipasang di atas bus yang melaju sambil lipsync menyanyikan lagu opera, serta beberapa adegan flashback-nya yang sedikit berkesan surealis. Akan tetapi, film ini tetap mengalir seperti sebuah drama komedi yang enak diikuti, dan setiap karakternya punya keunikan tersendiri (walaupun karakter Bob si montir baik hati terkesan standar bapak-bapak tipe good guy banget). Tema quirky ini juga nampak pada film-film Australia sejenis seperti Muriel's Wedding dan Strictly Ballroom (dua-duanya pun bagus). Dan...film ini entah kenapa membuat saya tiba-tiba jadi kepingin menumpuk lagu-lagu ABBA di playlist laptop saya. Ya, lagu-lagu grup pop tahun 70-an ini memang cukup banyak ditampilkan di film ini.

Dialog-dialognya juga asyik banget; Bernadette yang digambarkan kalem tapi bermulut tajam itu suka melontarkan kalimat-kalimat yang sarkastik dan lucu. Misalnya, ketika ia bertanya pada Felicia kenapa dia yang suka bergaya glamor itu mau-mauan mengikuti dirinya dan Mitzi ke kota kecil di pedalaman Australia, dan Felicia menjawab bahwa ia ingin mewujudkan mimpinya yaitu menaiki King's Canyon sampai puncak dengan dandanan drag queen lengkap plus sepatu hak tinggi, Bernadette langsung menyahut: 

"Great. That's what this country needs. A cock in a frock on a rock." 

Film ini bukan tipe film penceramah, tapi ada banyak adegan yang walau nampak remeh, singkat atau absurd, namun menyampaikan beberapa pesan yang sangat dalam. Misalnya, setelah bersenang-senang di sebuah bar kota kecil dan hendak melanjutkan perjalanan keesokan harinya, mereka melihat bus mereka dicoreti kata-kata "AIDS fuckers go home" oleh homofobik setempat. Mereka melanjutkan perjalanan dengan ketenangan penuh harga diri, sebelum Felicia mampir di sebuah toko kecil dan membeli sekaleng besar cat pink untuk mengecat ulang seluruh bagian bus tersebut.

Adegan ini sangat kontras dengan adegan ketika mereka bertemu rombongan orang Aborigin yang sedang berkemah di tengah gurun. Awalnya, Mitzi, Bernadette dan Felicia yang jelas-jelas sangat 'putih' itu dipandang dengan asing (ingat sejarah panjang penindasan orang Aborigin di tangan pendatang kulit putih; bahkan hingga kini, orang Aborigin masih banyak yang berusaha memperjuangkan hak-hak mereka). Akan tetapi, begitu ketiga tamu asing ini ikut bernyanyi dan menari setelah sebelumnya berdandan dulu, orang-orang Aborigin ini justru sangat menerima mereka, dan semuanya bersenang-senang sampai pagi. Saat nonton adegan ini, kesannya ceria tapi diam-diam nyesek: saya pikir, inilah dia, mereka yang dianggap outcast bersenang-senang bersama.

Intinya, sebagai sebuah drama komedi film ini punya segalanya: karakter dan cerita yang menarik, alur yang asyik diikuti, kostum dan musik yang asyik, dialog yang lucu dan cerdas, dan tentu saja...kesenangan ketika saya akhirnya bisa melihat Lord Elrond dalam kostum dugem malam Sabtunya.