Sabtu, 27 Agustus 2016

Skins


Tahun rilis: 2002
Sutradara: Chris Eyre
Bintang: Eric Schweig, Graham Greene, Gary Farmer, Noah Watts
My rate: 3.5/5

Figur bangsa Indian Amerika mungkin menimbulkan imaji romantis di benak orang-orang jaman modern, hingga tahap dimana film-film seperti Dances With Wolves dan The Last of the Mohicans, atau novel macam Winnetou, ditonton serta dibaca berulang-ulang sebagai 'referensi' terhadap kehidupan bangsa Indian. Tetapi, hei, jaman berubah, dan begitu pula mereka. Orang pribumi Amerika memang tidak lagi berkeliaran di hutan dengan bulu-bulu di kepala dan menenteng busur kemana-mana. Tetapi sebagian besar dari mereka juga menjalani hidup layaknya orang-orang modern. Mereka bekerja, bersekolah, anak mudanya banyak yang lebih suka mendengar musik rock dan hip-hop ketimbang memelajari seni drum pow-wow, dan seterusnya. 


Satu hal yang tidak pernah berubah sejak pertama kalinya bangsa kulit putih menginjakkan kaki di tanah mereka; orang-orang pribumi Amerika masih berjuang untuk memeroleh hak mereka sebagai penghuni asli tanah Amerika, yang berhak mendapat 'potongan kue' yang sama dengan kaum kulit putih. Baik yang sukses maupun yang hidup merana karena tercerabut haknya, ada semacam kesadaran kolektif dalam benak mereka sebagai bangsa yang terusir di tanah sendiri. Kurang lebih seperti kaum Afro-Amerika yang saling memanggil sesama mereka dengan brother dan sister walaupun tidak bertalian darah.

Jika ingin melihat sekilas gambaran kehidupan kaum Indian modern serta potret permasalahan aktual yang mereka hadapi, saya sarankan menonton film-film Chris Eyre. Sutradara asal Oregon sekaligus anggota suku Cheyenne dan Arapaho ini terkenal akan film-filmnya yang kerap memenangkan penghargaan, seperti Edge of America, The Doe Boy, Smoke Signals, serta film yang akan saya bahas, Skins.

Skins memotret kehidupan dua bersaudara suku Lakota Sioux di daerah reservasi Indian Beaver Creek, Rudy (Eric Schweig) dan Mogie (Graham Greene). Mogie adalah veteran perang Vietnam yang terlupakan jasa-jasanya, dan memilih menghabiskan hari-harinya dengan mabuk-mabukan. Sedangkan Rudy adalah polisi yang berusaha menyeimbangkan antara tugas dengan kehidupan pribadinya, sekaligus mengurus Herbie, putra Mogie yang masih remaja. Kehidupan di Beaver Creek sangat sulit bagi para penghuninya; pekerjaan sulit didapat, banyak yang menjadi alkoholik, terlibat kenakalan remaja, sementara kekerasan dalam rumah tangga bukan lagi berita baru. Rudy, yang telah mengubur impiannya menjadi pemain football profesional, sangat sayang pada Mogie walaupun keadaannya membuat Rudy sering frustrasi.

Sewaktu kecil, Rudy pernah disengat oleh seekor laba-laba, yang ia dan Mogie percayai sebagai Iktomi, roh yang mampu memanipulasi pikiran manusia. Ketika sedang menyelidiki kematian seorang remaja di sebuah rumah kosong pada malam hari, Rudy terjatuh dan kepalanya terhantam batu. Saat terbaring dengan mata berkunang, Rudy mengalami halusinasi yang muncul dalam bentuk kepala-kepala suku Indian dan seorang wanita yang babak belur. Seorang sahabat Rudy berkata bahwa Iktomi adalah putra dari Inyan, roh batu, dan menganggap pengalaman Rudy sebagai pengalaman spiritual.

Setelah pengalaman itu, Rudy perlahan-lahan mulai mengubah cara pandang serta sikapnya terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di Beaver Creek. Misalnya, ketika menemukan pelaku pembunuhan remaja yang dicarinya, Rudy memburu dan meremukkan lutut mereka dengan pemukul kasti. Rudy juga membakar sebuah toko minuman keras kepunyaan seorang kulit putih, tanpa menyadari bahwa Mogie yang mabuk tertidur di atap toko tersebut. Akibatnya, sebelah wajah Mogie terluka parah.

Rudy, yang merasa bersalah, mengaku pada Mogie tentang perbuatannya. Dan Mogie berkata, "lakukan sesuatu untukku; hancurkan hidung George Washington di Mount Rushmore." Rudy, tentu saja, menolak permintaan itu. Ketika sedang makan bersama, Herbie, Rudy dan Mogie berbagi cerita tentang tragedi yang menimpa sebuah reservasi Indian, yang melibatkan orang kulit putih; pembicaraan yang membuat Mogie menjadi emosional.

Tragedi demi tragedi terus menimpa keluarga Rudy dan orang-orang di sekitar mereka, yang berpuncak pada sekaratnya Mogie karena penyakit liver dan pneumonia yang baru belakangan didiagnosis. Rudy pun harus berjuang dan melakukan berbagai cara yang terkadang ekstrim, demi menyokong keluarganya serta mengurus para penghuni reservasi yang menjadi tanggung-jawabnya.

Secara keseluruhan, film ini berkisah tentang ikatan antar dua bersaudara di tengah-tengah dampak penindasan kaum kulit putih terhadap kehidupan kaum Indian Amerika di jaman modern. Jika Hollywood punya sejarah panjang mengeksploitasi imaji bangsa pribumi Amerika dalam sosok-sosok masa lampau mereka, Chris Eyre sebagai sutradara berdarah pribumi justru lari ke arah yang lain, yaitu memotret penduduk pribumi sebagai bagian dari Amerika Serikat kontemporer, dengan segala problema kehidupan, termasuk hal-hal yang kerap kali dilupakan oleh para "pemuja Indian," yaitu bahwa masyarakat pribumi sampai sekarang masih menempati posisi marjinal dalam masyarakat.

Penampilan yang brilian dari Eric Schweig dan Graham Greene (dia harusnya mendapat Oscar untuk ini! Tapi setidaknya, ia mendapat gelar Best Actor dalam Tokyo International Film Festival tahun 2002). Film ini juga mendapat penghargaan PRISM Award tahun 2003 untuk kategori theatrical feature film. Bila anda sudah bosan menonton film-film Hollywood dengan bujet besar dan efek khusus bombastis, film ini bisa menjadi selingan yang menyegarkan sekaligus membuka mata. Dan sebagai intermezzo pribadi, ijinkan saya berkomentar bahwa, di mata saya sebagai wanita, Native American men are way, way, hotter than Caucasian guys....

(Satu catatan tidak penting: di satu adegan setelah Mogie tanpa sengaja membuat senapannya meledak ketika sedang berlatih menembak, ia masuk ke mobilnya dan menyebut Rudy dengan sebutan winkte. Dalam bahasa Lakota, winkte berarti "dua jiwa," tetapi sekarang menjadi bahasa slang Lakota untuk "banci.")