Sabtu, 27 Agustus 2016

Contracted


Tahun rilis: 2013
Sutradara: Eric England
Bintang: Najarra Townsend, Caroline Williams, Alice MacDonald
My rate: 3.5/5

Zombie kini sudah menjadi monster 'wajib' dalam film horor. Semua yang berbau zombie sudah dibolak-balik, digodok, diramu dan dicampur-aduk dengan bermacam bumbu dalam berbagai film; mulai dari rombongan zombie pelari marathon (dan sasaran empuk untuk diledakkan kepalanya) di film-filmnya George A. Romero, zombie dalam film ala mockumentary di REC dan salah satu segmen film antologi V/H/S, zombie dengan bumbu komedi di Shaun of the Dead, zombie yang bisa naksir cewek di Warm Bodies, orang yang berubah jadi zombie saat bulan madu di Zombie Honeymoon, dan bahkan zombie yang walau serem bisa dibikin keok hanya dengan melemparkan sayur-sayuran ke arahnya di game Plant VS Zombies (yang bikin horor adalah ketika kerjaan saya nggak selesai-selesai dan deadline numpuk gara-gara game ini).

Makanya, tiap kali nonton film zombie, saya tidak pernah berharap banyak selain melihat adegan-adegan seru ketika tokoh utama 'berinteraksi' dengan zombie, karena rasanya kok saya sudah lihat semua jenis film zombie. Tapi, itu sebelum saya menonton Contracted. 

Saya bilang ini film zombie, tapi formulanya bukan seperti film aksi zombie yang biasa kita lihat. Sebenarnya, ini lebih ke body horror dengan tema penularan atau infeksi virus, seperti Cabin Fever, namun dengan gaya bercerita yang lebih personal. Disutradai oleh Eric England yang juga sebelumnya membuat Chilling Visions: 5 Senses of Fear, film ini berfokus pada 'pembusukan' perlahan tubuh sang pemeran utama, Samantha, akibat suatu virus yang tak dikenal, dimana peran Samantha ini dibawakan dengan apik oleh Najarra Townsend. Fokus film ini adalah 'kejatuhan' perlahan Samantha yang berangsur-angsur menyadari tubuhnya mengalami infeksi yang sulit dijelaskan, dengan gejala-gejala yang membuat para penonton jadi tidak nafsu makan.

Belum apa-apa, film sudah dibuka dengan adegan 'seru' sesosok pria yang sedang asyik gituan dengan mayat perempuan yang bagian jempolnya digantungi label biohazard di ruang penyimpanan jenazah (adegannya sih tidak eksplisit). Pria ini, yang kemudian hanya dikenal dengan nama BJ, kemudian bertemu Samantha di sebuah pesta. Samantha, yang stress dan mabuk-mabukan karena baru putus dengan pacarnya yang seorang cewek punk bernama Nikki, akhirnya menerima ajakan BJ untuk berhubungan seks tanpa kondom di dalam mobil.

Tanpa banyak basa-basi di awal film, Eric pun mengajak kita langsung 'terlibat' dalam awal mula kengerian yang dialami Samantha. Mulanya, ketika bangun pagi, Samantha merasa pusing dan mual, namun ia mengira itu hanya karena dirinya mabuk. Akan tetapi, gejala-gejala yang muncul kemudian semakin parah dan menjijikkan. Misalnya, ketika duduk di toilet, Samantha mengira dirinya menstruasi, namun kucuran darah yang keluar kemudian sangat deras sehingga seluruh bagian dalam kloset sampai berwarna kemerahan dan bahkan lengkap dengan gumpalan-gumpalan besar aneh (duh, maafkan saya). Ia juga mengalami ruam-ruam, kram perut parah, dan kulit yang memucat. Ia pun tambah panik ketika mendengar kabar dari Alice, tuan rumah pesta yang juga temannya, yang mengatakan bahwa polisi mencari-cari BJ untuk kejahatan yang nampaknya serius namun tanpa rincian lebih lanjut. Dokter pun membuat diagnosis bahwa Samantha terkena semacam penyakit menular seksual.

Semakin lama, gejala yang dialami Samantha pun semakin parah. Di film ini, kita akan 'ditraktir' pemandangan seperti bola mata yang mendadak nampak merah sebelah dan perlahan-lahan membusuk, kuku-kuku jari yang pelan-pelan membusuk dan melunak sampai Samantha bisa mengupasnya perlahan-lahan (bahkan hampir termakan ketika salah satunya rontok dan jatuh ke mangkuk salad seorang pelanggan di restoran tempat ia bekerja), koreng busuk yang perlahan muncul di wajah, dan tentu saja adegan epik belatung keluar dari organ intimnya saat ia berhubungan seks dengan pria yang sudah lama naksir dirinya (tidak ngeri, tapi yang cowok-cowok mungkin ngilu saat nonton adegan ini, terutama saat si cowok berkata dengan bingung "apa yang geli-geli ini?"). Kondisi mentalnya pun semakin kacau sehingga beberapa konfrontasi pun berakhir dengan pembunuhan, dan film ditutup dengan open ending yang membuka banyak sekali kemungkinan.

Kenapa saya bilang ini 'potret intim awal sebuah epidemi?' Karena jika biasanya film zombie menunjukkan apa yang terjadi setelah si zombie itu sendiri terinfeksi oleh virus apapun yang menyebabkan kondisinya, film ini memotret transformasi perlahan Samantha dengan berfokus pada aspek body horror. Eric sendiri mengaku tujuannya membuat film ini adalah ingin memotret film horor dengan tema virus yang bisa dipahami oleh banyak orang, terutama dengan tema ketakutan dan stigma yang melekat pada penyakit menular seksual (walau di film ini tak benar-benar dijelaskan virus apa sebenarnya yang menjangkiti Samantha). Karena itu saya merasa bahwa walau Contracted bukan film pertama dengan tema ini, namun Eric mengambil sudut penceritaan yang lebih personal. Banyak adegan yang settingnya di kamar mandi, sebuah tempat yang sejatinya tempat paling privat, tempat dimana banyak dari kita menghabiskan waktu mengamati tubuh sendiri, dan mungkin merasa cemas ketika mendadak menemukan 'sesuatu' yang seharusnya tak ada di tubuh kita. Karena itu, walau filmnya sendiri tak seheboh Cabin Fever atau film zombie yang biasa saya tonton, saya merasa bisa cukup nyambung dengan karakter Samantha, yang lama-lama merasa frustrasi dan stress karena merasa tak dipahami, sekaligus takut dihakimi oleh ibu dan sahabatnya.

Sikap-sikap Samantha juga menunjukkan sikap khas seseorang yang menduga dirinya mengalami penyakit menular seksual sehingga cara berpikirnya dipenuhi ketakutan akan stigma; dia ragu-ragu untuk pergi ke dokter, mudah marah karena merasa dihakimi, dan menuduh temannya mau membuatnya malu dengan memaksanya pergi ke dokter. Eric memang sengaja memasukkan tema ini karena merasa akan menjadi hal yang membedakan Contracted dengan film sejenis lainnya, walau saya sendiri mikir dia masih kurang maksimal dalam eksplorasinya. Tema ini jadi hanya terasa seperti tempelan belaka, walau filmnya sendiri masih bisa dinikmati. Identitas BJ yang tak terungkap sampai akhir film dan tidak adanya rincian tentang mengapa ia dicari polisi juga semakin membuat film ini diselaputi misteri, dan seolah mengajak kita bersama ada di dalam posisi Samantha: kebingungan dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya, namun waktunya semakin terbatas.

Pada akhirnya, ketika transformasi itu terjadi, saya masih duduk selama beberapa saat sebelum berpikir "ah, jadi beginilah perasaan seseorang yang perlahan-lahan menjadi zombie." Dan untuk pertama kalinya, saya merasa kasihan pada para 'mendiang' zombie yang ditembak dan dipenggal di berbagai film zombie favorit saya.