Sabtu, 27 Agustus 2016

The Last House on the Left

Tahun rilis: 1972
Sutradara: Wes Craven
Bintang: Sandra Peabody, Lucy Grantham, David A. Hess, Fred Lincoln, Jeremy Rain. 
My rate: 3/5

Film semacam The Last House on the Left (1972) termasuk salah satu yang bisa membuat saya mengembangkan imajinasi dan cerita saya sendiri, jauh setelah filmnya selesai (yang mungkin bisa lebih heboh dari cerita aslinya, kalau saja saya punya uang dan kemampuan untuk memfilmkannya). Temanya sebetulnya tidak benar-benar baru. Semacam film rape-and-revenge, dimana ada seorang tokoh wanita yang diperkosa dan kemudian dibalaskan dendamnya, entah oleh dia sendiri maupun orang lain. Di Indonesia, plot semacam itu paling populer dalam film horor bertema hantu, dimana hantu perempuan yang diperkosa dan dibunuh kemudian membalas dendam pada para pelaku.

Jadi, tidak sulit memahami bagian pertama ini, 'kan? Lalu mengapa film ini istimewa bagi saya? Dan mengapa, seperti yang anda bisa lihat, mereka harus mencantumkan kata-kata "Agar tidak pingsan, harap ulang kata-kata ini: hanya film, hanya film..." di poster filmnya?

Pertama-tama, mari kita bicarakan dulu plotnya. Satu keluarga yang terdiri dari Dr. Collingwood (Gaylord St. James), istrinya Estelle (Cynthia Carr), dan putri mereka, Mari (Sandra Cassel) tinggal di sebuah rumah besar di luar kota. Mari hendak merayakan ulang tahunnya yang ketujuhbelas dengan menghadiri konser di kota bersama sahabatnya, Phyllis (Lucy Grantham). Tanpa mereka ketahui, pada saat yang bersamaan, ada empat orang penjahat yang lolos dari penjara, yaitu Krug (David Hess), Junior (Marc Sheffler), Sadie (Jeramie Rain), dan Fred (Fred J. Lincoln).

Ketika pulang dari konser, Mari dan Phyllis bertemu Junior yang menawarkan mariyuana pada mereka. Keduanya kemudian diajak pergi ke apartemennya, dan langsung ditawan oleh Krug, Fred, serta Sadie. Keesokan harinya, mereka dibawa ke pinggiran kota, dimana disana keduanya dipukuli, dilecehkan secara fisik dan mental, diperkosa, sebelum akhirnya dibunuh. Phyllis ditikam dan dimutilasi, sementara Mari ditembak, dan tubuhnya tercebur ke dalam danau.

Keempat penjahat itu kemudian menyamar sebagai salesman dan memulai perjalanan keluar negara bagian. Tetapi, karena hari sudah terlanjur malam, mereka berhenti dan meminta ijin untuk menginap, ironisnya, di rumah orangtua Mari. Keempatnya mula-mula diterima dan diijinkan menginap, tetapi setelah melihat kalung milik Mari tergantung di leher Junior, Dr. Collingwood dan istrinya menjadi curiga. Mereka kemudian menguping pembicaraan tamu-tamu mereka, lantas menyusuri hutan, dan menemukan Mari di danau dalam keadaan sekarat. Mari membisikkan nama-nama para penjahat itu, sebelum akhirnya meninggal.

(Bagi yang belum pernah menonton, cobalah cari versi tahun 2009 yang dibintangi Sara Paxton. Adegannya lebih intens dan endingnya mungkin agak lebih 'bahagia' ketimbang versi tahun 1972. Cari di YouTube juga bisa, tetapi mereka memotong episode berisi adegan-adegan brutal. Sayang, karena bagi sebagian orang, itulah yang dicari, tapi ya sudahlah).

Sekarang, mari kita membayangkannya. Anda adalah sepasang suami-istri yang bahagia, dengan putri tunggal berusia remaja yang sangat anda sayangi. Bila anda seorang lelaki, bayangkan anda adalah tipikal ayah yang protektif sekaligus sedikit memanjakan anak. Bila anda seorang wanita, bayangkan anda sebagai ibu yang agak cerewet tetapi menyayangi anak anda lebih dari apapun di dunia ini. Dan anak itu sekarang diperkosa, disiksa, ditembak, kemudian meninggal tepat di hadapan anda.

Nah, pasangan orangtua di film ini tidak setipe dengan Uma Thurman dan David Carradine di Kill Bill, melainkan hanya suami-istri biasa, tipe orang-orang yang bisa kita temukan dengan mudah di sekitar kita. Tetapi, begitu melihat putri mereka diperlakukan sedemikian rupa, pasangan orangtua ini langsung berubah menjadi mesin pembalas dendam. Bukannya melapor pada polisi, mereka pun memutuskan untuk membuat para penjahat itu membayarnya, dengan cara mereka sendiri.

Maka, pasangan orangtua itupun tidak ragu-ragu untuk melakukan pembunuhan demi pembunuhan, menggunakan segala perkakas yang bisa mereka temukan di rumah. Sang ibu bahkan dengan sengaja menggunakan daya tarik seksualnya demi membunuh salah satu penjahat. Sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan akan mereka lakukan dalam kondisi biasa, kondisi 'normal.'

Ingatan saya kemudian melayang ke figur orang tua saya sendiri. Dan orang tua saya, sekedar memberi gambaran, adalah benar-benar setipe dengan orang tua di film itu. Dan mungkin juga dengan sebagian besar para orang tua dari pembaca sekalian. Ayah saya tipe yang agak cuek dan pelit kata-kata, tetapi cenderung menunjukkan kasih sayangnya dengan tindakan-tindakan kecil tapi berarti. Ibu saya, kebalikannya, sangat cerewet dan perhatian sekaligus tidak tegaan. Tetapi jelas ada satu kesamaan mereka: sama-sama mustahil melakukan sesuatu yang bakal menyakiti orang lain.

Saya sering membayangkan apa yang akan dilakukan orang tua saya, seandainya saya sendiri mengalami nasib seperti Mari. Kalau melihat sifat orang tua saya, mungkin mereka akan sedih, tetapi lalu membawa kasus ini ke polisi dan meminta agar si pelaku dihukum sesuai dengan kejahatannya, sementara dalam hati mengikhlaskan kejadian ini dan memastikan adik saya tidak akan tertimpa hal yang sama.

Atau, mereka secara tidak terduga akan melakukan segala cara untuk mewujudkan kangaroo court mereka sendiri. Mengejar para pelaku sampai ke ujung dunia dan membunuh mereka dengan tangan sendiri.

Apa yang akan mereka lakukan? Sampai sekarang, kadang saya masih bertanya-tanya. Bagaimanapun, seperti tulisan di poster filmnya, saya selalu berusaha memastikan agar jangan sampai orang tua saya terjebak dalam situasi seperti itu. Dan saat menonton film ini, mereka serta adik saya selalu bisa berkata, "ini hanya film, hanya film, film...."