Jumat, 09 September 2016

Inside


Tahun rilis: 2007
Sutradara: Julien Maury, Alexandre Bustillo
Bintang: Alysson Paradis, Beatrice Dalle
My rate: 3.5/5

Kehilangan suami, hampir kehilangan bayi, sendirian di rumah, dibuntuti, lalu diancam untuk dibunuh sebelum bayinya dirampas; itu semua adalah mimpi buruk wanita hamil manapun. Lewat Inside (À l'intérieur), sutradara Julien Maury dan Alexandre Bustillo berhasil mengolah premis yang sudah umum (orang asing mencoba menerobos masuk ke sebuah rumah untuk membunuh si pemilik rumah, dengan motivasi tertentu) menjadi pesta banjir darah memikat yang menohok salah satu ketakutan terdasar kaum wanita serta masyarakat urban, dan membuat film tersebut mampu mengelem penonton di tempat duduk dari awal sampai akhir.

Alysson Paradis memerankan Sarah, seorang fotografer yang kehilangan suaminya dalam kecelakaan mobil tragis. Setelah diopname selama beberapa bulan, Sarah yang sedang hamil besar pulang dalam keadaan depresi, menolak bantuan dari teman baik, bos, maupun ibunya. Ketika sendirian di rumah, Sarah menyadari dirinya diawasi oleh seorang wanita asing (Beatrice Dalle) yang pura-pura hendak meminjam telepon, namun dengan gaya mencurigakan. Sarah kemudian menyadari bahwa wanita itu ternyata sudah membuntuti dirinya selama beberapa lama.

Ketika Sarah tertidur, wanita itu diam-diam berhasil masuk ke rumahnya, dan membuat Sarah terlonjak bangun dengan tikaman gunting di perutnya yang membesar. Sarah pun harus berusaha mati-matian menghindari serangan wanita itu, yang hendak mengambil paksa bayi dari perut Sarah. Kedatangan petugas polisi serta orang-orang terdekat Sarah bahkan tidak bisa menolongnya, dan Sarah pun harus terlibat dalam permainan kucing-kucingan serta duel berdarah untuk mencegah wanita itu mengambil bayinya, apapun motivasi wanita misterius tersebut.

Inside adalah salah satu film yang menandai bangkitnya era New French Extremity, film-film Prancis di awal abad ke-21 yang ditandai dengan banyaknya shock value dan tema ekstrem seperti kekejaman brutal, banjir darah, kanibalisme, seksualisme tabu, dan sebagainya, seringkali dengan kritik atau komentar terhadap kondisi sosial dan politik. Inside termasuk salah satu film dari kelompok ini yang mendapat apresiasi tinggi, dan saya bisa paham kenapa.

Inside adalah film yang membuat tidak nyaman karena memotret kebrutalan mentah, ketidakberdayaan, dan isolasi. Film ini bukan tentang psikopat dengan kemampuan manusia super atau protagonis yang memiliki "keistimewaan" untuk menghadapi si psikopat. Sarah hanya seorang wanita hamil yang depresi dan kemudian merasa terancam ketika sendirian di rumah. Si wanita misterius bukan psikopat super; dia memiliki alasan mengapa dia melakukannya, walau kita baru akan tahu hal itu menjelang akhir film. Bahkan di beberapa bagian, kita bisa melihat tanda-tanda kerapuhan, frustrasi dan kesedihan mendalam yang dirasakan si wanita misterius, membuat sosoknya terasa agak manusiawi.

Sebaliknya, kita mendapat kesan betapa kesepian dan terisolasinya Sarah; walau sempat melapor ke polisi yang berjanji mengirim mobil patroli untuk berjaga-jaga, Sarah tetap tak merasa tenang. Seperti banyak masyarakat urban, Sarah masih merasa cemas dan ketakutan walau tinggal di rumah bagus di lingkungan yang baik. Kita semua merasa tenang ketika sudah mengunci semua pintu dan jendela, dan kita tidak mengharapkan hari yang damai itu berakhir dengan pertarungan berdarah dengan penyusup asing. Tapi itu terjadi pada Sarah, dan sudah terjadi pula pada orang lain di dunia nyata.

Setiap aksi kebrutalan antar Sarah dan si wanita misterius terasa nyata, karena adegan kekerasan dan serba berdarah antar mereka tidak "terkoreografi." Bayangkan saja akan seperti apa jadinya kalau penyusup seperti itu masuk ke rumah Anda! Mereka saling melukai dengan berbagai perkakas rumah tangga yang ada di rumah Sarah; masing-masing sudah tak peduli lagi bagaimana parahnya luka-luka mereka, asalkan tujuan tercapai. Yang satu ingin bertahan hidup, yang satu lagi ingin bayi. Ada juga satu adegan dimana Sarah yang panik melakukan suatu hal yang membuatnya sangat menyesal, dan saya rasanya ingin ikut menangis bersamanya, karena bisa membayangkan hal yang sama terjadi pada saya di situasi sama.

Uniknya, kebanyakan ulasan jelek yang saya lihat tentang film ini bukan dari segi teknisnya, melainkan kebrutalan yang disorot. Dalam beberapa bagian, Inside memang cenderung berupaya sedekat mungkin mendobrak batasan yang pembuat film serupa lainnya mungkin tak akan berani langgar. Misalnya, ada beberapa visual yang seolah diambil dari sudut pandang si janin dalam kandungan, termasuk saat adegan kecelakaan atau saat perut Sarah hendak ditikam gunting, lengkap dengan close-up wajah si janin. Batasan yang mungkin hanya pernah dilanggar oleh para pembuat A Serbian Film dengan adegan pemerkosaan bayi yang kontroversial, atau adegan alternatif dalam The Butterfly Effect dimana sesosok janin yang hendak dilahirkan sengaja bunuh diri dengan mencekik dirinya sendiri dengan tali pusar.

Film-film slasher biasanya berakhir dengan si protagonis mengalahkan si pembunuh, atau si pembunuh "menang" dengan cara mengejutkan. Akan tetapi, akhir film Inside tidak seperti itu, dan mungkin membuat Anda secara otomatis memegangi perut Anda sendiri, entah Anda hamil atau tidak. Yang jelas, walau film ini sepintas sama seperti film-film berdarah tipikal lainnya, kebrutalannya akan menyertai Anda bahkan setelah filmnya usai.