Selasa, 04 Oktober 2016

One on One


Tahun rilis: 2014
Sutradara: Kim Ki-Duk
Bintang: Ma Dong-Seok, Lee Yi-Kyung, King Young-Ming, Jo Dong-In
My rate: 2/5


Saya punya harapan besar ketika pertama kali membaca sinopsis singkat film terbaru Kim Ki-Duk, One on One. Kim Ki-Duk, yang dikenal sebagai "provokator" serta jagoan membuat penonton Barat maupun Timur merasa tak nyaman sekaligus tergugah lewat karya-karya seperti Moebius, Pieta, Beautiful, The Isle, Spring, Summer, Autumn, Winter dan Samaria, mengeksplorasi berbagai tema dan simbolisme yang menohok dalam cara bertutur yang tak konvensional. Ekspektasi saya pun melonjak tinggi ketika mendengar rencana Kim Ki-Duk menggarap thriller balas dendam, One on One, yang tidak memberi banyak informasi plot kecuali bahwa "sekelompok pembunuh yang menghabisi seorang gadis remaja gantian diburu oleh kelompok teroris misterius."

Sayangnya, seperti pepatah the higher you fly, the harder you fall, film ini membuat ekspektasi saya yang sudah melambung tinggi bukan lagi menurun, melainkan terbanting dan diinjak-injak dengan sadis.

Premisnya terdengar menjanjikan, dan bahkan adegan pembukanya tidak basa-basi; seorang gadis remaja yang pulang sekolah dikejar oleh sekelompok orang, lalu dibunuh di sebuah gang gelap. Tidak ada penjelasan apapun, tidak ada alasan jelas mengapa gadis itu dibunuh, dan kita memang tidak akan pernah mengetahui alasannya sampai film berakhir. Kita langsung melihat kehidupan para pembunuh ini bertahun-tahun setelahnya, sampai mereka diburu oleh sebuah kelompok teroris yang menyebut diri mereka "Shadow." Kelompok ini membawa para pembunuh ini satu-persatu ke ruangan rahasia dan menyiksa mereka supaya mengakui apa yang mereka lakukan di masa lalu.

Kedengarannya seperti sinopsis yang seru, tapi selama menonton film ini, hanya dua emosi yang saya rasakan: kosong dan kecewa. Kim Ki-Duk nampaknya hendak membuat pernyataan politik tertentu di sini, dan yang bisa saya tangkap adalah: mengikuti perintah untuk melakukan tindakan sadis tanpa mengetahui alasannya adalah salah, terutama jika hanya berbasis kesetiaan atau nasionalisme buta. Masalahnya, Kim tidak berhasil mengeksekusinya dengan baik. Sejak diperkenalkan dengan para karakter yang terlibat dalam pembunuhan itu, saya tidak merasakan apa-apa. Tidak simpati, atau kesal, atau apapun. Jadi, apa peduli saya saat kelompok Shadow menculik dan menyiksa mereka satu-persatu?

Shadow juga digambarkan sebagai sebuah kelompok yang nampaknya memiliki misi untuk membuat pernyataan tertentu pada publik serta negara. Kim berusaha membuat kelompok ini terlihat semisterius mungkin walau kita juga familiar dengan wajah-wajah para anggotanya. Tidak ada penjelasan mendetail tentang apa yang dilakukan kelompok ini, dan memang tidak perlu, karena jujur saja, saya juga tidak mendapat perasaan tertarik untuk mengetahui apa yang menjadi motivasi mereka. Di luar adegan interogasi paksa dan penyiksaan, anggota kelompok ini nampaknya terlalu bernafsu menekankan 'pernyataan' mereka, tetapi lupa bercerita atau memberi konteks. Kalaupun ada pernyataan politik tertentu yang hendak disampaikan Kim, saya tak kunjung menangkapnya dari awal sampai akhir.

Adegan demi adegan berjalan dengan urutan yang membingungkan, terutama karena banyak karakter yang tidak memiliki ciri pembeda tertentu, sehingga hanya terasa seperti tambahan datar tak berguna, namun semuanya seolah memaksa diberi porsi di layar. Saya berkali-kali tertukar antara anggota kelompok Shadow serta para pembunuh yang diburu ini. Ditambah lagi dengan selipan dialog dan teks bahasa Inggris yang entah dibuat oleh siapa sehingga justru terasa canggung. Hasilnya adalah pengalaman menonton yang tidak mengalir dengan lembut, terputus-putus, dan membingungkan.

Ada beberapa upaya untuk membuat kengerian dalam film ini terasa nyambung dengan penonton. Kim berusaha mengaitkan motivasi kelompok ini dengan kengerian dunia nyata. Salah satu karakternya digambarkan menonton video-video internet yang menggambarkan kengerian dunia, mulai dari aksi teroris hingga berita tentang penyiksaan tenaga kerja di Malaysia. Akan tetapi, kekosongan koneksi berarti antar satu adegan dengan adegan lain membuatnya terasa hambar dan dipaksakan. Saya mencoba menikmati film ini dengan dua cara: mencoba menggali pernyataan sosial-politik yang coba diusung Kim, atau menikmatinya tanpa pretensi dan hanya ingin tenggelam dalam intrik serta adegan-adegan sadis menegangkan yang ditawarkan. Sayangnya, keduanya gagal.

Kim Ki-Duk adalah "master provokator," sanggup menghentak benak kita dengan tema yang begitu janggal, tabu dan berani namun anehnya begitu mengena, sehingga menonton One on One membuat saya tak berharap hal lain kecuali bahwa Kim akan menebus kesalahan ini sepenuh hati dengan film berikutnya.