Senin, 05 September 2016

A Girl Walks Home Alone at Night



Tahun rilis: 2014
Sutradara: Ana Lily Amirpour
Bintang: Sheila Vand, Arash Marandi, Marshall Manesh, Mozhan Marno
My rate: 4/5

Ana Lily Amirpour tidak membiarkan filmnya memenuhi semua ekspektasi yang mungkin dimiliki penonton internasional tentang vampir, wanita ber-chador, dan film berbahasa Parsi. A Girl Walks Home Alone at Night adalah sebuah traktiran visual yang membenturkan genre, memadu beragam simbolisme, mengusung realisme sekaligus surealisme, dan tentunya mengandalkan lagu-lagu serta musik yang tepat untuk membangun suasana dalam film yang agak minim dialog ini.

A Girl Walks Home Alone at Night bertempat di sebuah kota fiksional di Iran yang disebut Badlands, kota industri yang muram dengan mesin pemompa minyak dan pabrik-pabrik yang asapnya mengotori udara, jukstaposisi antara rumah-rumah di pemukiman penduduk makmur dan miskin, jalanan yang sepi dengan sudut-sudut gelap, serta pengedar narkoba, pelacur dan germo yang mewarnai malam. Kita bertemu dengan Arash (Arash Marandi), pemuda yang mencari tambahan uang dengan menjual narkoba dan mencuri kecil-kecilan, serta mengurus ayah yang pecandu heroin, Hossein (Marshall Manesh). Seorang germo kemudian merampas mobil Arash sebagai ganti hutang-hutang ayahnya yang tak terbayarkan.

Germo ini kemudian bertemu dengan gadis misterius ber-chador hitam (Sheila Vand) yang tak berbicara namun sangat memikat. Si germo mengajak gadis ini ke rumahnya, namun gadis yang ternyata vampir itu menyerang dan membunuhnya. Arash kemudian bertemu dengan gadis ini, tepat sebelum menemukan mayat si germo. Arash bertemu lagi dengan si gadis ketika dia pulang dari sebuah pesta kostum (ironisnya dengan mengenakan kostum Drakula), dan momen intim yang sempat mereka bagi dalam pertemuan itu membuat si gadis mengajak Arash ke rumahnya, namun berhasil menahan diri untuk tidak membunuh pemuda itu. Mereka bertemu lagi beberapa kali, dan walaupun si gadis berkali-kali mengisyaratkan bahwa dia tidak seperti yang dikira Arash, pemuda itu tak peduli dan tetap mendekatinya. Akan tetapi, si gadis akhirnya melakukan sesuatu yang membuat Arash tercabik antara tetap mencintai si gadis atau menerima kenyataan tentang siapa gadis itu sebenarnya.

Jika deskripsi di atas membuat Anda mengharapkan romansa vampir-manusia semacam Twilight atau bahkan Bram Stoker's Dracula-nya Gary Oldman dan Keanu Reeves, lupakan saja. A Girl Walks Home Alone at Night bukanlah sebuah film vampir yang langsung ke sasaran dengan pembunuhan-pembunuhan spektakuler, romansa terlarang sebagai bumbu, dan akhir yang kalau tidak bahagia ya tragis. Film hitam putih ini mengajak Anda untuk tenggelam dalam atmosfernya, dengan visual unik kota fiksional suram yang mengesankan sebuah set Wild West modern (walau dikisahkan ada di Iran, Badlands sesungguhnya berlokasi di California). Dan memang, menonton film ini bagaikan menyaksikan benturan beberapa genre sekaligus: visual, atmosfer, musik pengiring, dan penyajian tiap adegan memiliki elemen horor, Gothic, neo-noir, bahkan Spaghetti Western dan elemen graphic novel.

Karakter Sheila Vand sebagai si gadis vampir tak bernama adalah sosok yang akan terlihat keren sebagai tokoh graphic novel (dan memang, film ini akhirnya dijadikan graphic novel oleh Radco), dengan tampilan unik yang mungkin tak akan pernah ada lagi dalam film serupa, dan kalaupun ada, karakter gadis ini pasti akan dirujuk sebagai referensi. Gadis vampir yang menghabiskan hari-harinya di rumah kecil, mendengarkan musik dan menari-nari tanpa ekspresi, sebelum merias diri dan mengenakan chador-nya untuk menjelajah malam. Melihat gadis ini berjalan dengan gaya hampir seperti melayang atau "merayap" keluar dari balik bayang-bayang dan membuntuti penduduk kota yang keluar larut malam menimbulkan kesan menghantui yang diam-diam merayapi benak saya, terutama dalam satu adegan bisu dimana dia membuntuti seorang pria dari seberang jalan dan menirukan gerak-geriknya.

Amirpour juga bermain dengan banyak simbol dalam film ini. Chador, pakaian panjang khas wanita Iran yang biasanya kerap dipandang sebagai simbol kesopanan atau represi itu maknanya berubah drastis. Di tubuh si gadis, chador berubah menjadi sama fungsinya seperti jubah Drakula: menunjukkan kemisteriusan, sekaligus melambangkan wibawa dari kekuatan tak alami yang manusia biasa tak akan bisa menandinginya. Sosok si gadis yang cantik namun lebih banyak diam dan terbungkus chador adalah sesuatu yang menimpulkan kesan rapuh dan "korban mudah," sehingga memikat pria jenis tertentu. Apalagi, kebanyakan film horor kerap diawali dengan gadis yang berjalan sendirian di malam hari (sesuai judul film ini), sebelum menjadi korban monster atau pembunuh berantai. Akan tetapi, judul film ini menjadi sebuah ironi, ketika kenyataannya, justru si gadis yang keluar sendirian di malam hari itulah monsternya, dan para pria yang menganggapnya rapuh menjadi korbannya.

Untuk adilnya, menyebut si gadis sebagai monster juga rasanya kurang tepat. Lewat ekspresi dan gerak-gerik memikat, Sheila Vand sukses menampilkan si gadis sebagai sosok gaib misterius yang lebih berkesan kesepian daripada menakutkan. Satu adegan paling memorable menurut saya adalah ketika dia memungut skateboard yang dijatuhkan seorang bocah yang ditakut-takutinya; ketika dia meluncur dengan skateboard itu, menjaga keseimbangan sembari membuat kain chador-nya melayang di belakang tubuhnya bak jubah Superman, ekspresi wajahnya melembut, dan rasa iba yang tak bisa dijelaskan terhadap sosoknya melanda benak saya. Ketika membuntuti seorang pelacur, dia justru malah bisa dibilang berteman dengan pelacur itu. Gadis pembunuh yang berteman dengan wanita kaum marjinal dan mencintai pencuri kecil-kecilan ini agak mengingatkan saya pada cerpen Perempuan Preman karya Seno Gumira Ajidarma, dimana seorang wanita perkasa yang tak konvensional dipuja-puja kaum wanita lain serta mencintai seorang pencopet, namun dibenci kaum preman, pemeras dan pemerkosa.

Saran saya untuk Anda: saat menonton film ini, biarkan diri Anda terhanyut dalam sajian audio visual yang ditawarkan. Tidak usah berekspektasi untuk dialog yang lebih banyak, atau sajian plot konvensional. Biarkan film ini membuat Anda merasa bahwa sesuatu yang indah dan bermakna sedang perlahan tersaji di depan Anda, tanpa Anda bisa memahaminya. Dan untuk karakter Sheila Vand, saya hanya bisa bilang: mendiang Christopher Lee mungkin akan bangkit dari kuburnya dengan kostum Drakulanya, dan mengajaknya tos sambil bilang: "terima kasih sudah membuat vampir kelihatan misterius *dan* seram lagi, nak!"