Sabtu, 07 Oktober 2017

Coffee and Cigarettes


Tahun rilis: 2003
Sutradara: Jim Jarmusch
Bintang: Roberto Benigni, Cate Blanchett, Steve Buscemi, Iggy Pop, Alfred Molina, Bill Murray, Steven Wright, Alex Descas
My rate: 3/5


Jim Jarmusch adalah sutradara nyentrik yang mampu "membuat tontonan membosankan menarik", terutama karena kesetiaannya pada narasi nonkonvensional, mood yang kontemplatif, humor gelap, serta fokus mendalam pada perkembangan karakter yang bahkan menyaingi plotnya sendiri. Coffee and Cigarettes, sebuah film antologi yang bagaikan versi sinematik dari obrolan ngalor-ngidul di warung kopi, sekilas nampak seperti potongan-potongan percakapan acak, dan tiap segmen tidak memiliki kaitan apa-apa.

Melihat daftar aktor yang membintangi film garapan Jim Jarmusch ini saja mungkin sudah membuat kepala mau meledak: "Kok banyak betul nama tenarnya? Mereka emang ditaruh di mana aja?" Dan itu belum menghitung nama-nama lain seperti Meg dan Jack White (anggota band The White Stripes), Joie dan Cinque Lee, Steve Coogan, Taylor Mead, dan sebagainya, yang belum saya masukkan karena malas ngetiknya. Pasalnya, Coffee and Cigarettes memang sebuah antologi dengan kisah-kisah yang sama sekali tidak memiliki benang merah, kecuali aktivitas ngopi. 

Coffee and Cigarettes tidak memberi pengalaman menonton dengan "aturan" plot serta penceritaan yang tertata secara rapi. Setiap kisah pendek dalam film ini tidak berhubungan, dan satu-satunya benang merah hanyalah cangkir-cangkir kopi dan rokok yang dinikmati para karakternya. Tiap cerita bahkan tidak memiliki plot jelas; benar-benar hanya sekumpulan orang yang duduk dan nyerocos membicarakan banyak hal. Mulai dari soal kegagalan dalam menghentikan kebiasaan merokok, obrolan keluarga yang ujung-ujungnya adalah aksi pinjam duit, pengakuan tentang tingkat kecanduan kafein, hingga ocehan soal teori-teori konspirasi terkait Elvis Presley.

Layaknya obrolan sepotong-sepotong yang mungkin kita curi dengar di warung atau kedai kopi (kecuali jika earphone atau laptop terlalu menyita perhatian), ada saat-saat di mana setiap "obrolan" memberi perasaan tidak puas. Para karakter yang terlibat tidak mengajak penonton mengobrol dari awal sampai akhir, sehingga apa yang mereka bicarakan terkadang terkesan janggal. Misalnya, dalam segmen yang dibawakan kakak-beradik anggota band The White Stripes, rasanya mungkin janggal melihat dua orang ini tanpa tedeng aling-aling langsung bicara soal kumparan Tesla. Tetapi ya itulah seninya obrolan ala warung kopi (atau angkringan): orang paling tak terduga bisa melontarkan tema omongan atau celetukan yang mengejutkan. Apalagi kalau asupan kopi dan rokok mengalir terus.

Suasana ala omongan warung kopi itulah yang coba dituangkan Jim Jarmusch. Sebagai sutradara nyentrik yang kerap mengutamakan atmosfer dan studi karakter, lengkap dengan protagonis yang cenderung loner, Jarmusch memang sering menuntut penontonnya untuk bersabar (dan kalau tidak suka, pergi saja, mungkin begitu). Coffee dan Cigarettes mungkin film yang paling menguji kesabaran penonton, sampai-sampai beberapa ulasan pedas pun mengatakan bahwa Jarmusch sudah kehilangan mojo-nya dalam menguji kesabaran penontonnya. Saya sendiri mengakui bahwa film ini bukan tipe yang akan saya tonton jika sedang butuh pick-me-up; bahkan All About Eve yang isinya juga ngomong melulu dengan gaya bahasa ketinggian itu sangat lebih membetot perhatian daripada film ini. Tapi entah kenapa, memang ada sesuatu yang membius dari mendengarkan obrolan ngalor-ngidul orang-orang ini.

Beberapa cerita memiliki kedalaman berbeda ketimbang sekadar obrolan tak jelas. Dalam salah satu episode favorit saya di sini, Cate Blanchett berperan ganda sebagai seorang aktris cantik yang sukses (seolah cerminan dirinya sendiri) serta sepupunya yang lebih gahar tetapi tidak sesukses dirinya, mengobrol dalam pertemuan super canggung di mana kepribadian "dua" sosok ini berbenturan. Dalam episode lain, seorang pelayan canggung mencoba pe-de-ka-te dengan pengunjung wanita yang cantik. Dia hendak menukar kopi wanita itu yang sudah agak dingin dengan kopi baru, tetapi ditolak mentah-mentah dengan alasan: "Kopiku warna dan temperaturnya sudah pas." Segmen-segmen seperti ini mungkin akan disambut sebagian penonton karena menunjukkan lebih banyak aksi, walau benang merah obrolan di tengah kopi dan rokok tetap tak ditanggalkan.

Layaknya obrolan warung kopi yang tan soyo dalu tan soyo memble alias makin lama makin ngelantur, Coffee and Cigarettes tidak meminta perhatian lewat plot dan narasi standar, melainkan menawari Anda kesempatan untuk menguping obrolan-obrolan ala warung dan kedai kopi (yang dilakukan para bintang tentunya, karena beberapa segmen menunjukkan kualitas self-aware dari para bintang ini). Sesial-sialnya, film ini bisa dinikmati untuk seru-seruan jika Anda penggemar berat kopi dan rokok, karena setidaknya Anda mungkin bisa mengapresiasi serunya obrolan tak berujung yang dipompa oleh asupan dua macam kenikmatan duniawi ini.