Sabtu, 23 Desember 2017

Women Who Kill


Tahun rilis: 2017
Sutradara: Ingrid Jungermann
Bintang: Ingrid Jungermann, Sheila Vand, Ann Carr, Annette O'Toole
My rate: 3/5


Dunia tidak pernah berhenti terpesona pada para wanita yang jadi terkenal karena membunuh, mungkin karena pikiran bawah sadar kita masih menganggap wanita sebagai kaum yang memiliki kebaikan dan kelembutan hati alami, sehingga mereka yang sanggup melakukan pembunuhan keji dianggap sebagai anomali menarik. Women Who Kill, film debut Ingrid Jungermann, adalah drama misteri yang memilih mengambil sudut pandang dari mereka yang terpesona pada para wanita pembunuh. Sayangnya, di balik segudang potensi yang hadir di layar, film ini menawarkan pengalaman menonton yang terasa agak canggung dan tidak utuh.

Dalam Women Who Kill, Jungermann berperan sebagai Morgan, presenter siaran podcast khusus wanita-wanita pembunuh berantai. Dia membawakan acara tersebut bersama Jean (Carr), mantan kekasihnya yang masih akrab dengannya, walau hubungan mereka sedikit kaku. Suatu hari, Morgan bertemu dengan Simone (Vand), gadis misterius yang melamar kerja di pusat distribusi makanan tempatnya bekerja. Simone yang sensual, misterius, dan merupakan kebalikan 180 derajat dari Jean pun segera menarik perhatian Morgan.

Morgan dan Simone segera memulai hubungan romantis, namun setelah beberapa lama, Morgan mulai merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Simone darinya. Jean, yang curiga pada Simone, bahkan melakukan penggalian informasi sendiri untuk menguak masa lalu si gadis misterius. Pada akhirnya, Morgan dan Jean bertanya-tanya jika identitas Simone bukan seperti yang diakuinya, dan bahwa dirinya adalah sosok yang sebenarnya lebih cocok untuk diprofilkan dalam siaran podcast Morgan dan Jean.

Women Who Kill sebenarnya merupakan film debut yang cukup segar dalam banyak aspek. Film ini bukan hanya menampilkan pasangan lesbian yang tidak digambarkan sebagai karikatur seksi atau objek fantasi pria heteroseksual, tetapi juga tinjauan ke dalam subkultur "lesbian hipster" di Brooklyn, serta obsesi publik terhadap wanita-wanita yang melakukan kejahatan pembunuhan. Sekilas, film ini kelihatan muram, tetapi kemuraman itu menutupi elemen-elemen dry humor gelap serta kecerdasan sinis yang bertaburan di sana-sini.

Saya sangat suka dialog-dialog setajam silet yang berbumbu humor sinis, terutama yang dilontarkan Morgan dan Jean. "Lebih baik aku pacaran dengan cewek yang bikin aku takut setengah mati, daripada yang membosankan setengah mati," tukas Morgan suatu ketika untuk menyindir Jean, yang langsung dibalas pedas oleh sang mantan, "Silakan, nikah saja sama dia supaya kalian bisa punya keluarga yang bisa dia tusuk sampai mati di tengah malam". Rawr. Dialog macam ini keluar dari mulut karakter lain juga, termasuk Lila, salah satu pembunuh yang mereka wawancarai (penampilan singkat namun karismatik dari Annette O' Toole). Dinamika hubungan antara Jean dan Morgan diwarnai momen-momen pasif-agresif yang samar, dan saya cukup menikmati bagaimana kedua orang yang pernah pacaran tapi masih berbagi pekerjaan ini menyeimbangkan posisi antara "mantan yang dingin" dan "rekan profesional yang masih cukup dekat".

Sheila Vand sebagai Simone juga berakting cukup apik sebagai gadis misterius dengan kecantikan lembut yang sedikit menyeramkan. Saya seolah masih bisa melihat jejak-jejak perannya sebagai si vampir berburka di A Girl Walks Home Alone at Night, besutan sutradara Amerika keturunan Iran, Ana Lily Amirpour. Aktor yang tidak bisa menghilangkan jejak peran sebelumnya ketika tampil di suatu film mungkin terdengar mengkhawatirkan, tetapi dalam hal peran sebagai Simone, hal itu justru menguntungkan akting Vand. Terkait dengan ini adalah fakta bahwa Morgan dan Jean meraih popularitas lewat memuaskan imaji publik akan wanita-wanita yang terkenal karena mencabut banyak nyawa, sesuatu yang mungkin separuh mendorong ketertarikan Morgan terhadap Simone (bukan tanpa alasan kalau serial seperti Deadly Women begitu populer).

Sebagai sutradara, Jungermann cukup pandai memadukan atmosfer, musik, serta permainan cahaya dan bayangan untuk menciptakan lanskap penuh kontradiksi: lingkungan kreatif kelas menengah atas New York yang seolah diselimuti musim gugur abadi ala film Woody Allen, tetapi dengan elemen-elemen gelap, seperti sorotan ke buket bunga di ghost bikes (titik-titik untuk mengenang pejalan kaki atau pengendara sepeda yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas). Sayangnya, atensi Jungermann terhadap detail-detail kecil ini masih belum memberi pengalaman menonton yang utuh untuk saya.

Beberapa ulasan yang saya lihat mendeskripsikan film ini sebagai drama dengan bumbu thriller. Lainnya menulis bahwa film ini adalah komedi gelap. Saya sendiri lebih condong menyebutnya "film yang tidak tahu apakah mau mengambil sudut pandang drama, misteri, atau komedi gelap". Film ini dibuka dengan cara yang cukup menarik, tetapi plotnya justru "menurun" ketika Morgan bertemu Simone. Kadang rasanya seperti drama romantis, kadang seperti thriller, kadang seolah berlagak mau masuk ke ranah horor, tetapi tiba-tiba mundur. Pengalaman menonton pun terasa terputus-putus, disjointed, dan membuat hal-hal bagus yang saya sebutkan di atas terasa agak sia-sia.

Konfrontasi terakhir antara Morgan, Jean, dan Simone (yang harusnya menjadi momen di mana semua roller coaster emosi serta rasa penasaran terpuaskan) pada akhirnya malah terasa datar. Simone diposisikan sebagai karakter misterius, tetapi terkadang simbolisme yang ditempelkan padanya terasa terlalu klise (kotak misterius yang tak seorangpun diizinkan menyentuhnya, tapi malah dipajang terang-terangan di rumahnya). Saya masih suka Simone sebagai karakter, tetapi bagaimana karakter ini diperlakukan membuatnya terlihat kurang berkesan dan berbobot.

Women Who Kill adalah film dengan berbagai elemen menarik yang tidak menyatu menjadi satu pengalaman mentonton kohesif, tetapi setidaknya, film ini masih menawarkan tema unik dan dialog menggigit yang bolehlah dikunjungi lagi jika kepingin.