Senin, 16 Januari 2017

10 Dokumenter tentang Internet (yang Bisa Ditonton di YouTube)



Gabungan antara cuaca buruk, kepala mumet karena kebanjiran pekerjaan akhir-akhir ini, dan sindrom mager parah membuat saya lama sekali tidak menulis postingan baru walaupun beberapa draft sudah mangkrak minta diselesaikan. Karena saat ini saya masih berjuang menyelesaikan lemburan dari minggu lalu, maka saya putuskan untuk "menyingkat" proses pembuatan postingan baru ini dengan ikut-ikutan membuat postingan berupa daftar alias list.

Saya memilih film dokumenter karena belakangan ini saya memang sedang senang-senangnya mencari film-film dokumenter bagus. Dengan inspirasi dari daftar film-film horor pendek terngehe "Horrortherapy" ala Rangga Adithia, saya putuskan untuk membuat daftar film dokumenter yang bisa langsung Anda tonton di KauTabung. Saya memilih tema internet karena, hei, apalagi yang lebih pas di era ini?

Tautan menuju setiap film saya tempatkan di judul-judulnya (dan ada 2 bonus film di poin keempat dan ketujuh). Jadi, tanpa menunggu lama, click those titles away!

1. Access to Africa

Di tengah ambisi para raksasa digital untuk menghubungan semua orang di seluruh dunia, benua Afrika masih menjadi salah satu tempat dengan white spots (tidak memiliki jaringan internet dan ponsel) terbanyak di dunia. Padahal, benua ini juga memiliki banyak potensi masa depan. Sutradara Regie Bregtje van der Haak menelusuri benua yang penuh kontradiksi ini; tempat di mana masih banyak white spots namun para perintis tren teknologi mulai dari yang canggih sampai seadanya mengadu nasib, fakta bahwa koneksi internet di Parkhurst, Johannesburg termasuk yang tercepat di dunia, dan iHub di Nairobi, Kenya ternyata memiliki 150 usaha startup. Ada juga wawancara dengan tokoh-tokoh seperti mantan direktur Google Afrika, wanita perintis usaha startup, filsuf, serta pemimpin Microsoft4Afrika.

2. The Truth According to Wikipedia

Dikenal juga dengan nama Wiki's Truth, film dokumenter besutan sutradara Belanda IJsbrand van Veelen ini menawarkan komentar tentang problema menggunakan Wikipedia sebagai sumber terpercaya (yang disunting publik dan bukannya para ahli yang sengaja ditunjuk sebagai semacam gatekeeper untuk menjaga keabsahannya). Film ini dirilis pada tahun 2008, 7 tahun setelah Wikipedia diluncurkan, dan bertujuan membuat penonton menjadi lebih kritis dalam hal menggunakan sumber rujukan semacam ini.

3. Zero Days: Security Leaks for Sale

Dokumenter yang rilis pada tahun 2014 ini disutradarai oleh Hans Busstra, dan menelusuri era transaksi tak terbentuk dalam dunia maya dimana para peretas mengincar berbagai kelemahan dan "pintu belakang" dari jaringan internet yang tak terjaga dengan baik, lalu menjualnya kepada penawar tertinggi. Dokumenter ini juga mengulik "pertempuran" antara white-hat hackers (peretas etis) dan black-hat hackers, yang meretas dengan tujuan berbeda. 

4. Good Copy, Bad Copy dan bonus: RiP! A Remix Manifesto

Pertempuran antara pengunduh file musik atau film dengan pemilik hak cipta memang sesuatu yang sepertinya belum akan mencapai titik terang dalam waktu dekat ini. Pihak pertama mengusung alasan seperti membuka ruang lebih bagi generasi mendatang untuk berkreasi serta memberi akses pada pengguna internet yang kurang mampu, sedangkan pihak kedua berpegang pada undang-undang dan peraturan ketat terkait hak cipta yang sudah mapan. Good Copy, Bad Copy menayangkan benturan dua sudut pandang berbeda ini dari berbagai responden seperti seniman remix, pengacara, penyedia jasa file sharing, dan produser.

Bonus: RiP! A Remix Manifesto digarap oleh Brett Gaylor, dan merupakan dokumenter yang temanya mirip. Akan tetapi, dokumenter ini lebih banyak menelusuri fenomena perubahan pada pemahaman akan hak cipta, lewat serangkaian seniman, blogger dan komposer yang bermain di "area kelabu" terkait remixing. Si sutradara sejak awal sudah memberi pesan bahwa dokumenter ini bisa diunduh secara gratis dan bahkan di-remix sesuka hati. Kontributor dalam dokumenter ini termasuk Cory Doctorow, co-editor situs Boing Boing; Gilberto Gil, musisi dan mantan Menteri Kebudayaan Brazil yang pernah mensponsori program kultural berbasis kebebasan berekspresi untuk masyarakat kurang mampu; Dan O'Neill, kartunis yang pernah dituntut Walt Disney Corporation karena membuat kartun Air Pirates yang memparodikan Miki Tikus secara satir, dan seniman mashup Gregg Gillis. 

5. What Makes You Click

Internet mengubah cara kita melakukan berbagai hal, mulai dari berbelanja hingga melibatkan diri dalam kegiatan politik. Para pengelola situs serta pebisnis yang memiliki situs pun berlomba-lomba mencari cara agar ada semakin banyak orang yang mengeklik situs mereka, mengubah (mengonversi) klik menjadi lalu lintas pengunjung, yang kemudian menjadi sumber keuntungan. What Makes You Click membawa kita melihat lebih jauh tentang upaya para pakar "konversi", yaitu orang-orang yang bidang pekerjaannya membuat kita menghabiskan banyak waktu di internet dengan mengeklik tanpa henti.


Anda yang gemar mengunduh film atau musik lewat situs The Pirate Bay mungkin sudah tidak asing dengan peristiwa penangkapan dan pengadilan para pendirinya: Peter Sunde, Fredrik Neij, dan Gottfrid Svartholm. Dokumenter ini merekam peristiwa penangkapan dan pengadilan tersebut, sekaligus mengajak kita melihat pusat operasi The Pirate Bay dan bagaimana para pembuat situs ini memandang konflik antara undang-undang hak cipta dan pembatasan kebebasan berekspresi serta hak akses terhadap informasi.

7. We Are Legion: The Story of the Hacktivists dan bonus: Hacker Wars

Kedua dokumenter ini sama-sama mengulik fenomena "hacktivism," Akan tetapi, dokumen yang pertama lebih menekankan terhadap grup Anonymous dan kasus-kasus terkenal di mana mereka pernah terlibat. Dokumenter kedua lebih berfokus terhadap fenomena ini secara umum di Amerika Serikat.

8. Digital Amnesia

Teknologi penyimpanan data digital yang berkembang saat ini membuat banyak dari kita mulai menyingkirkan benda-benda seperti perpustakaan tradisional, buku dan arsip fisik. Akan tetapi, apakah data digital seabadi yang kita sangka? Apakah hal ini akan berbalik menghantam kita suatu hari ini ketika sejarawan masa depan tak lagi mampu menemukan peninggalan fisik yang menggambarkan era kita selain data digital yang mungkin tak akan bisa dibaca lagi? Dokumenter garapan Bregtje van der Haak menelusuri fenomena ini, termasuk mengambil contoh-contoh dunia nyata seperti ditutupnya perpustakaan legendaris di Royal Tropical Institute di Amsterdam karena kekurangan dana, serta liputan sekumpulan pengarsip digital yang juga menentang ide penghancuran benda-benda fisik.

9. Us Now

Jejaring sosial telah mengubah total bagaimana kita saling berhubungan dengan orang lain, termasuk dengan politisi. Us Now adalah upaya sutradara Ivo Gomley menelusuri fenomena "kolaborasi masal" di mana hubungan antara masyarakat dan para politisi kini telah memasuki era baru yang tak akan lagi bisa menyamai sifat hubungan yang lebih "tradisional" di masa lalu, terutama ketika masyarakat benar-benar bisa memiliki kekuatan untuk memengaruhi kebijakan politis karena merasakan kepuasan dalam partisipasi langsung, bukannya menyerahkan keputusan terhadap "wakil rakyat."

10. Offline is the New Luxury

Akhirnya, dokumenter ini bisa dibilang merupakan antitesis dari video pertama. Di era di mana Google sampai menerbangkan balon ke langit Sri Lanka untuk menyediakan Wifi gratis, memutus koneksi sejenak menjadi kemewahan baru. Di era di mana jaring-jaring komunikasi dibangun untuk menghubungkan semua orang di seluruh dunia, di mana lagi tempat kita bisa benar-benar menikmati "kemewahan" untuk lepas dari koneksi? Di sini ada juga wawancara dengan peretas, pendiri Pirate Party, psikolog, pengamat internet, serta pakar politik.