Selasa, 13 September 2016

Carnage


Tahun rilis: 2011
Sutradara: Roman Polanski
Bintang: Jodie Foster, Kate Winslet, Christoph Waltz, John C. Reilly
My rate: 4/5

Bayangkan sebuah film berdurasi 80 menit yang hanya menampilkan empat karakter saling berbicara tanpa henti dalam satu ruangan. Mungkin bukan tipikal film yang akan Anda beri rating tinggi, seperti yang dengan egoisnya saya lakukan. Akan tetapi, Roman Polanski berhasil mengubah Carnage menjadi sebuah drama berbumbu black comedy yang halus, memikat, dan secara samar menguak "gunung berapi" di bawah topeng kaum kelas menengah kulit putih mapan dan beradab, yang ditampilkan secara brilian oleh para bintangnya.
Carnage dibuka dengan adegan singkat sekelompok anak di taman Brooklyn, dimana dua orang di antara mereka nampak terlibat perkelahian. Adegan kemudian berlanjut ke ruang tamu apartemen Penelope (Jodie Foster) dan Michael (John C. Reilly), dimana mereka menerima kedatangan Alan (Christoph Waltz) dan Nancy (Kate Winslet). Mereka berupaya menyelesaikan efek perkelahian antar anak-anak mereka, Zachary dan Ethan, kedua anak yang kita lihat berkelahi di taman dalam adegan pembuka, karena perkelahian itu berakhir dengan luka yang lumayan parah di mulut Ethan. Keempat orangtua ini hendak memastikan bahwa masing-masing tidak ada yang saling dendam dan menuntut, bahkan membuat surat pernyataan untuk mengesahkannya.

Mulanya, percakapan berjalan sopan dan baik-baik; keempat orang ini saling menjaga kesopanan dan sikap beradab. Akan tetapi, semakin jauh mereka mengobrol, semakin banyak aspek-aspek pribadi mulai disenggol, dan "percikan-percikan" pun muncul di sana-sini. Di balik sosoknya sebagai wanita liberal yang perhatian pada problem sosial, Penelope ternyata tinggi hati. Michael yang tipe pria pekerja keras dan santai ternyata rasis dan kekanak-kanakan. Nancy yang kalem dan sopan ternyata pemabuk, dan Alan terus-menerus menerima panggilan telepon, yang membuat semua orang kesal. Percakapan yang tadinya merupakan upaya rekonsiliasi pun terus berkembang menjadi benturan ideologi pribadi dan menunjukkan wajah asli yang brutal di balik topeng warga kelas menengah baik-baik keempat orang tersebut.

Jika Anda menonton film ini dan merasa seperti menyaksikan sebuah drama panggung, itu karena Carnage memang diangkat dari naskah drama berjudul God of Carnage karya Yasmina Reza. Kecuali adegan sekelompok anak bermain di taman di awal dan akhir film, semua adegan film ini terjadi di rumah Penelope dan Michael, sebagian besarnya di ruang tamu mereka (dengan beberapa adegan selingan di dapur, kamar mandi, dan lorong luar apartemen). Ini menciptakan set klaustrofobik yang sempurna untuk membenturkan empat individu dengan ideologi berlawanan; rasanya seperti melihat miniatur sebuah komunitas, kota, bahkan negara, dengan anggota berlainan paham dan ideologi yang berusaha hidup bersama dengan aturan-aturan bermasyarakat yang beradab sebagai panduan, sampai suatu kejadian mengguncang keseimbangan halus ini dan meruntuhkan keteraturan yang ada.

Karena film ini sepenuhnya bergantung pada dialog, naskah yang baik tentu sangat diperlukan. Saya dengan senang hati bisa bilang bahwa saya kadang memutar film ini sebagai "suara latar" saat bekerja, seperti mendengarkan sandiwara radio, karena sangat menarik dan menuntut saya menonton (atau mendengar) dari awal sampai akhir, karena hanya lewat dialoglah saya bisa melihat perkembangan karakter keempat karakter ini, mulai dari momen-momen percakapan paling sopan hingga paling brutal. Dari keempat aktor ini, karakter Alan yang paling saya suka, terutama karena mendengarkan caranya berargumen terasa sedikit memberi gaung peran Christoph Waltz sebagai SS-Standartenführer Hans Landa yang sangat persuasif di Inglorious Basterds.

Lewat dialog dan beberapa adegan komedik, Roman Polanski berhasil membuat perasaan saya terhadap stereotip representasi keempat karakter ini terasa diaduk-aduk, diinjak-injak, lalu dilempar ke luar jendela. Di dunia nyata, saya mungkin akan mengidentifikasikan diri dengan karakter Penelope yang suka membaca, pecinta karya seni, serta punya kepedulian pada problem sosial di Afrika. Akan tetapi, sejak awal, Polanski membuat saya justru tidak simpatik pada Penelope, tipe orang yang dengan cermat menyusun katalog seni koleksinya di meja tamu untuk dilihat semua orang (sesuatu yang akan dia sesali di tengah-tengah film!). Sebaliknya, Alan, tipe orang yang jika menelepon sampai mengganggu orang lain, dan seorang pengacara untuk perusahaan farmasi besar dengan reputasi yang patut dipertanyakan, ternyata malah menjadi karakter paling simpatik di antara keempat orang ini, membuat saya merasa agak kasihan ketika "sesuatu" juga akhirnya terjadi padanya.

Film ini juga dengan telak mengungkap apa yang ada di balik topeng beradabnya masyarakat kelas menengah, terutama kulit putih kelas menengah, hal yang beberapa kali menjadi bahan perdebatan antara Penelope dan Alan ketika percakapan semakin memanas. Penelope berkali-kali merujuk ke kekacauan politik, konflik dan perang di Afrika sebagai contoh bahwa mereka di Amerika harus menerapkan "aturan masyarakat beradab" dalam memutuskan segala sesuatu, tanpa menyadari bahwa dia dan tamu-tamunya sesungguhnya juga sudah siap saling mencakar wajah masing-masing karena pertengkaran antar bocah, yang bahkan tidak ada di sana. Superioritas khas warga kelas menengah kulit putih yang terbungkus simpati akan problem sosial di negara dunia ketiga disodok-sodok tanpa ampun oleh Polanski.

Carnage tentunya berada di spektrum yang berlawanan dari film-film penuh aksi atau darah, namun ada kalanya saya ingin mengenyangkan diri dengan film padat dialog yang disutradarai dengan halus, dan mampu membuat saya menyimak, tertawa, serta menutup wajah dengan perasaan agak malu.