Sabtu, 27 Agustus 2016

Soylent Green

Poster alternatif untuk Soylent Green oleh Matt Dupuis

Tahun rilis: 1973
Sutradara: Richard Fleischer
Bintang: Charlton Heston, Leigh Taylor Young, Edward G. Robinson
My rate: 3/5


Mungkin ada di antara pembaca yang saat ini sedang menyantap sarapan, makan siang dan malam, atau kudapan. Apa favorit Anda? Pasti macam-macam ya? Sekarang, bayangkan bila kita hidup di jaman dimana satu-satunya makanan yang tersedia hanyalah lembaran wafer padat gizi dengan rasa yang itu-itu saja, dan itupun dijatah? Tunggu beberapa minggu, dan kasus kerusuhan, bunuh diri, serta pembunuhan bakal meningkat drastis.

Skenario ini bukan hanya saya bayang-bayangkan, tetapi juga sudah difilmkan (bukan oleh saya, tapi Richard Fleischer). Film Soylent Green yang diangkat dari novel Make Room! Make Room! karya Harry Harrison, bercerita tentang kondisi masa depan Amerika Serikat, tepatnya tahun 2022. Saat itu, populasi di New York saja sudah mencapai empat puluh juta orang, dan tiap ruang kosong di kota telah disesaki oleh manusia. Alam telah hancur oleh polusi, peperangan dan efek rumah kaca, kemiskinan merajalela, dan makanan seperti yang kita kenal amat sangat langka. Satu-satunya makanan yang tersedia adalah lembaran-lembaran wafer tinggi protein berwarna hijau buatan Soylent Corp. yang diberi nama soylent green. Karena dijatah, makanan ini sering menjadi pemicu kerusuhan berdarah.

Ty Thorn (Charles Herlston) adalah seorang detektif yang tinggal di apartemen kumuh bersama sahabatnya yang sudah tua, Solomon "Sol" Roth (Edward G. Robinson). Sol adalah seorang kutu buku yang menjadi saksi tentang masa-masa ketika bumi masih indah, alam masih subur, dan makanan 'asli' masih berlimpah-ruah. Tentu saja, ketika Sol bercerita tentang masa-masa tersebut, Ty hanya menanggapinya dengan sinis.

Ty lalu ditugaskan menyelidiki kasus pembunuhan seorang pemilik firma hukum top bernama William Simonson. Ketika Ty masuk ke apartemen Simonson, untuk pertama kalinya ia menemukan makanan-makanan 'asli' seperti daging sapi, selada, tomat, dan minuman anggur. Ia juga bertemu dengan bodyguard Simonson, Fielding (Chuck Connors) dan kekasihnya, Shirl (Leigh TaylorYoung). Belakangan, Ty baru menyadari bahwa pembunuhan Simonson adalah sebuah konspirasi, terutama ketika gubernur New York menyuruhnya menghentikan penyelidikan, dan Ty beberapa kali nyaris dibunuh.

Ty kemudian menemukan sebuah karya tulis berjudul Soylent Oceanographic Survey Report dari apartemen Simonson, dan memberikannya pada Sol untuk dipelajari. Begitu selesai membacanya, Sol menjadi amat sedih dan memutuskan untuk bunuh diri di fasilitas assisted suicide (pendampingan bunuh diri) milik pemerintah. Tepat sebelum mati, Sol meminta pada Ty untuk membeberkan isi karya tulis rahasia tersebut. Ketika Sol akhirnya meninggal, Ty menyusup ke ruang bawah tanah fasilitas pendampingan bunuh diri tersebut, dan menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi.

Thomas Hobbes mungkin sudah meninggal tiga ratus tiga puluh satu tahun yang lalu, namun kata-kata terkenalnya, Homo homini lupus (Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) masih bergema hingga saat ini. Tentu kita tidak membicarakan manusia serigala, tetapi sesuatu yang lebih dalam. Film Soylent Green menunjukkan secara eksplisit akan apa yang terjadi bila kita terus hidup secara egois: kelak, manusia hanya akan bisa bergantung pada insting bertahan hidup mereka, dan menyingkirkan segala dilema moral serta etika demi memuaskan rasa lapar.

Dalam salah satu adegan, ketika Ty menerobos masuk ke apartemen Simonson untuk menemukan bukti, ia malah kehilangan profesionalismenya sebagai detektif dan mulai memuaskan dirinya dengan buah-buahan, sayuran, daging, serta minuman keras milik Simonson. Pastinya sensasi yang mengejutkan dan nyaris menyamai orgasme, setelah seumur hidup hanya memakan wafer hijau. Dan ketika ia membawa pulang selembar daging ham untuk ditunjukkan pada Sol, sahabat tuanya itu menangis, karena teringat bahwa bumi "dulu pernah begitu indah, dan makanan seperti ini sangat melimpah."

Akhir film ini sedikit menggantung, tetapi Ty nampaknya tidak cukup menarik perhatian orang-orang dengan seruannya tentang kenyataan di balik soylent green. Inilah mimpi buruk terbesar bagi orang-orang seperti Sol: kelak, manusia akan melakukan hal yang tak terbayangkan hanya untuk bisa mendapat makanan, segera setelah pohon dan hewan terakhir menghilang dari muka bumi. Dan sialnya, orang-orang seperti Ty (yang baru belakangan menyadari potensi bahaya), menyadarinya di saat sudah terlambat.

Adegan ikonik dalam film ini adalah ketika Sol berada di dalam fasilitas assisted suicide, yang berupa sebuah ruangan dengan layar raksasa, speaker, ranjang dan beberapa mesin, serta lampu yang cahayanya bisa diatur. Sol kemudian diminta oleh petugas untuk memilih musik yang ingin didengar serta adegan yang ingin dilihat, sembari perlahan-lahan menuju kematiannya. Dengan cahaya jingga lembut serta iringan komposisi Tchaikovsky, Beethoven dan Grieg, Sol menikmati pemandangan pegunungan, padang rumput, air terjun, hewan-hewan, laut, dan "semua keajaiban alam yang tak akan pernah terlihat lagi." Menyedihkan, karena hal itu justru membangkitkan kesadaran bahwa itu semua tak lain hanya kenangan. Pada akhirnya, Sol justru melewati kematian yang menyakitkan, alih-alih dengan tenang.

Filmnya sendiri mungkin terasa agak flat, terutama bagi kita yang sudah terbiasa dengan film-film thriller yang digarap dengan teknologi tinggi. Trailernya juga dengan "fantastis" membocorkan adegan akhirnya, jadi saya sarankan untuk tidak melihatnya jika Anda pembenci spoiler. Akan tetapi, buat saya, kengerian di balik tema film inilah yang membuatnya menjadi tontonan iseng dengan makna cukup dalam.